KKP Dorong Teknologi CCS demi Jaga Ekosistem Laut Nasional

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pengembangan Carbon Capture Storage (CCS) (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Kamis, 11 Juni 2026 | 12:15:04 WIB

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah memacu implementasi teknologi Carbon Capture Storage (CCS).

Tindakan tersebut diterapkan sebagai bagian dari taktik memitigasi dampak perubahan iklim dan memastikan ekosistem laut tetap lestari.

Kartika Listriana selaku Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP mengungkapkan bahwa wilayah Indonesia mengantongi potensi yang luar biasa besar, baik ditinjau dari sisi sumber emisi maupun kapasitas ruang penyimpanan karbonnya.

Pihak pemerintah pun telah mematok target reduksi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) hingga mencapai angka 31,89 persen lewat usaha mandiri, serta menyentuh 43,20 persen apabila mendapatkan bantuan internasional di tahun 2030, seturut ketentuan dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC).

“Carbon capture storage menjadi solusi subsurface yang perlu didukung karena mampu mengurangi emisi karbon sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut,” ujar Kartika dalam siaran pers yang diterima pada Rabu (10/6/2026).

Pernyataan itu diutarakan oleh Kartika sewaktu dirinya mengisi sesi diskusi terpumpun yang membahas mengenai regulasi ruang laut bagi industri minyak dan gas di Bali pada 8 Juni 2026.

Ia menguraikan lebih mendalam bahwa akselerasi CCS ini mempunyai peluang besar dalam menyokong masuknya investasi lewat pembaruan teknologi sekaligus menyukseskan target iklim di level nasional.

Akan tetapi, efektivitas pengerjaan CCS ini tidak cuma menggantungkan diri pada tingkat kesiapan teknologi semata, melainkan juga menuntut adanya jaminan tata ruang laut yang padu serta berkelanjutan.

“Pengembangan CCS perlu didukung dengan kepastian regulasi, koordinasi lintas sektor, dan tata kelola yang baik. Salah satunya Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) sebagai instrumen yang memberikan kepastian berusaha dan mencegah potensi konflik pemanfaatan ruang,” jelasnya.

Senada dengan penjelasan Dirjen Kartika, Didit Eko Prasetiyo selaku Direktur Pemanfaatan Ruang Kolom Perairan dan Dasar Laut DJPRL menerangkan bahwa pengerjaan CCS yang tunduk pada asas pengaturan ruang laut—meliputi fase perencanaan, realisasi pemanfaatan, pengawasan, hingga pembinaan—bakal mengokohkan proses transisi energi nasional sekaligus memperkuat ekonomi biru domestik.

Sebagai informasi tambahan, CCS merupakan sebuah instrumen teknologi peralihan energi rendah karbon yang bertugas menangkap emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh sumber-sumber berskala besar semacam pembangkit listrik ataupun pabrik industri, untuk kemudian ditimbun jauh di area bawah tanah supaya tidak menguap bebas ke atmosfer.

Langkah ini diaplikasikan demi menekan dampak buruk dari pemanasan global serta memproteksi ekosistem hayati, termasuk wilayah laut yang pada saat ini dilaporkan sudah menyerap kisaran 25% dari total emisi CO2 global.

“Kegiatan CCS sendiri merupakan bagian dari pengembangan lapangan gas Abadi yang dikelola oleh INPEX Masela sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang telah diterbitkan KKPRLnya,” ujar Didit.

Pada momentum yang sama, Chief Geophysicist INPEX Masela, Anky Fatwa, ikut memaparkan bahwa keberadaan CCS sangat vital bagi kelangsungan wilayah perairan karena terbukti sanggup mereduksi emisi karbon di lapisan atmosfer, menghambat lonjakan suhu, meminimalkan tingkat keasaman air laut, sekaligus menjaga kestabilan ekosistem laut.

“Proyek Abadi LNG berupaya mengurangi emisi CO? dengan cara menyuntikkannya ke dasar laut. Langkah ini sejalan dengan target Indonesia untuk mencapai net-zero emisi karbon serta rencana INPEX menuju masyarakat rendah karbon,” ungkapnya.

Anky menyisipkan info bahwa terhitung mulai tahun 2022 sampai dengan 2025 yang lalu, perusahaannya telah menjalin kemitraan strategis bersama Institut Teknologi Bandung guna menguji tingkat keamanan serta kelayakan dari operasionalisasi teknologi CCS ini.

Pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono juga terus menyuarakan dengan tegas perihal komitmen penuh dari KKP untuk merealisasikan tata ruang perairan yang terintegrasi, harmonis dengan kelestarian alam, serta mampu menaikkan taraf kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Reporter: David Ilham