RI-China Kerja Sama Kembangkan Teknologi Penyimpanan Energi
JAKARTA - Indonesia dan China memperkokoh kerja sama dalam mengembangkan teknologi penyimpanan energi listrik demi menyokong percepatan transisi menuju energi bersih serta memperkuat keandalan pasokan listrik di dalam negeri.
Kemitraan ini selaras dengan kian pesatnya pembangunan energi baru terbarukan di tanah air, terutama pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), yang amat memerlukan sistem penyimpanan energi demi menjaga stabilitas pasokan listrik.
Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Harris, memaparkan bahwa pihak pemerintah terus merumuskan beragam regulasi untuk menyokong pengembangan teknologi penyimpanan energi, termasuk dalam aspek investasi serta penguatan ekosistem energi bersih domestik.
"Pengembangan sistem penyimpanan energi akan menjadi bagian penting dalam mendukung target transisi energi dan pencapaian net zero emission (NZE) Indonesia pada 2060," ujar Harris dalam keterangannya di EESA Summit Indonesia 2026, Kamis (11/6).
Di samping memperkokoh integrasi energi terbarukan ke dalam sistem jaringan listrik nasional, teknologi penyimpanan energi ini juga dianggap sanggup mendongkrak keandalan pasokan listrik di area kepulauan serta kawasan terisolasi yang selama ini kesulitan mengakses energi.
Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Direktorat Energi Terbarukan Kementerian ESDM Hery Ferdiansyah menyebutkan bahwa pemerintah menggelar kesempatan kemitraan global demi mempercepat pembangunan energi baru terbarukan beserta teknologi penyokongnya, termasuk sistem penyimpanan energi.
Sementara itu, Executive Vice President Power Plant Procurement and Independent Power Producer (IPP) PT PLN (Persero) Nico Samuel Saroinsong menerangkan bahwa keperluan terhadap teknologi penyimpanan energi bakal kian melonjak sejalan dengan bertambahnya proyek energi baru terbarukan yang digarap di Indonesia.
Di sudut lain, pemerintah pun sedang memacu pemerataan akses listrik lewat pendirian infrastruktur ketenagalistrikan di area-area kepulauan.
Pada tahun 2026, Kementerian ESDM mematok target pengerjaan listrik desa (Lisdes) di 2.065 titik yang tersebar di pelbagai wilayah Indonesia.
Chief Operating Officer Seven Event Agus Riyadi menyatakan bahwa kolaborasi antara Indonesia dan China amat dibutuhkan untuk memacu penyerapan teknologi penyimpanan energi yang mampu menyokong ketahanan energi domestik.
“Sinergi yang kuat antara Indonesia dan China, khususnya melalui pemanfaatan inovasi teknologi penyimpanan energi, dapat mempercepat pencapaian target transisi energi bersih serta mendukung ketahanan energi nasional yang andal dan berkelanjutan,” ujar Agus.
Setali tiga uang, Secretary General EESA, Rene Duan, memandang Indonesia mempunyai prospek yang masif dalam pembangunan energi bersih serta sistem penyimpanan energi di lingkup Asia Tenggara.
“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan energi bersih. Melalui kerja sama antara China dan Indonesia, kami berharap dapat mendukung terwujudnya sistem energi masa depan yang andal dan ramah lingkungan,” kata Rene.
Lewat kerja sama ini, aplikasi teknologi penyimpanan energi diharapkan sanggup memperkokoh sistem kelistrikan domestik, menaikkan pemanfaatan energi terbarukan, sekaligus memicu investasi serta pertumbuhan industri energi bersih di dalam negeri.