PLN EPI Dorong Kemandirian Energi Lewat CBG Berbasis Limbah Sawit

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 17 Juni 2026 | 16:42:49 WIB

JAKARTA – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berpandangan bahwa optimalisasi gas biometana terkompresi (CBG) yang memanfaatkan limbah cair kelapa sawit (POME) bakal memperkokoh langkah transisi serta kedaulatan energi di tingkat nasional.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir melalui pernyataan resminya di Jakarta pada Senin menyampaikan bahwa CBG dapat menjadi salah satu alternatif paling berdaya guna dalam mereduksi emisi metana sekaligus memangkas ketergantungan tanah air terhadap gas alam cair (LNG).

"Indonesia memiliki potensi besar untuk mengubah limbah sawit menjadi sumber energi rendah karbon yang bernilai ekonomi," kata Hokkop dalam forum Climate Policy Initiative (CPI).

Pemanfaatan POME menjadi CBG mampu mendukung target dekarbonisasi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

"Kalau industri sawit ini bisa kami manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kami membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan," tambahnya.

Wilayah Indonesia menyimpan sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang memiliki potensi limbah cair menyentuh angka kisaran 130 juta meter kubik per tahun.

Kendati demikian, hingga saat ini porsi terbesar dari potensi melimpah tersebut belum dikelola secara maksimal untuk menyuplai energi di dalam negeri.

Di lain sisi, Hokkop mengutarakan bahwa buangan limbah POME menjadi salah satu faktor penyuplai emisi metana dalam jumlah yang sangat besar.

Pihak PLN EPI mengalkulasikan bahwa total emisi yang bersumber dari limbah kelapa sawit tersebut menyentuh angka kurang lebih 20 juta ton CO2e setiap tahunnya.

Hokkop menguraikan bahwa jalannya pemanfaatan CBG tidak sekadar memberi sumbangsih pada penurunan kadar emisi, melainkan turut menyokong pemenuhan target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional di angka 44-48 persen menjelang tahun 2030 serta perwujudan net zero emissions (NZE) pada tahun 2060 mendatang.

Demi memacu akselerasi industri biometana tersebut, PLN EPI tengah merancang ekosistem CBG yang saling terintegrasi mulai dari proteksi ketersediaan pasokan bahan mentah, pendirian unit produksi, hingga pembentukan pangsa pasar.

Lewat skema terpadu tersebut, PLN EPI mengambil peran sebagai agregator sekaligus offtaker yang menjembatani pihak pabrik sawit, penyedia teknologi, sektor pendanaan, dunia industri, hingga unit pembangkit listrik.

"Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat," kata Hokkop.

Salah satu langkah konkret yang kini tengah dimatangkan oleh pihak PLN EPI yakni agenda proyek cofiring CBG pada PLTGU Belawan yang berlokasi di Medan, Sumatera Utara.

Bagi satu unit turbin gas yang memuat kapasitas daya 130 megawatt (MW) dengan kadar pencampuran (cofiring) sebesar 2,5 persen, setidaknya memerlukan pasokan bio-CBG sekitar 450 MMBTUD, yang diperoleh dari olahan sekitar 330.000 meter kubik POME per tahun atau setara dengan operasional satu unit fasilitas CBG.

Sementara itu, demi memenuhi pasokan untuk empat unit turbin di PLTGU Belawan, setidaknya diperlukan sokongan dari empat fasilitas produksi CBG dengan proyeksi nilai investasi menyentuh angka 20 juta dolar AS.

"Implementasi tersebut diperkirakan mampu menghindari emisi hingga sekitar 500 ribu ton CO2e," sebutnya.

Hokkop pun memaparkan bahwa proyek percontohan yang berjalan di PLTGU Belawan bakal menjadi rujukan awal bagi proses integrasi biometana ke dalam jaringan kelistrikan nasional.

Selain efektif mengurangi polusi emisi, penerapan pola cofiring ini memberikan peluang pemanfaatan sarana pembangkit gas yang sudah tersedia, sehingga mampu mempercepat penyerapan bauran energi bersih tanpa harus mendirikan pembangkit baru dalam skala masif.

Di samping mendatangkan faedah bagi kelestarian alam, Hokkop menilai bahwa hilirisasi CBG ini juga menyimpan potensi dalam memicu lahirnya nilai ekonomi yang sangat menjanjikan.

Merujuk pada hitungan simulasi dari PLN EPI, sebuah proyek pengerjaan CBG diproyeksikan mampu menstimulasi nilai ekonomi hingga mencapai Rp1,7 triliun serta mereduksi emisi berkisar 700 ribu ton CO2e.

Sedangkan di dalam peta jalan (roadmap) korporasi, volume produksi komoditas CBG ini ditargetkan dapat melonjak drastis dari angka 1.000 MMBtu di tahun 2026 menjadi 2.957 BBTU pada tahun 2030.

"Bioenergi menjadi jembatan antara transisi energi, ketahanan energi, dan ekonomi kerakyatan. Limbah yang selama ini menjadi sumber emisi dapat diubah menjadi sumber energi yang bernilai tambah sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional," kata Hokkop.

Langkah pengolahan CBG ini membuktikan bahwa jalan keluar bagi transisi energi tidak selalu bertumpu pada penggunaan teknologi anyar yang berbiaya selangit.

Melalui optimalisasi sisa buangan sawit, Hokkop menambahkan bahwa Indonesia memegang kesempatan emas untuk memangkas emisi metana, meminimalkan ketergantungan terhadap impor LNG, serta menciptakan kedaulatan energi yang jauh lebih hijau berlandaskan potensi alam domestik.

Reporter: David Ilham