Hubungan Bilateral RI-Jerman Dorong Hilirisasi Industri

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 17 Juni 2026 | 16:42:49 WIB

PONTIANAK – Presiden RI Prabowo Subianto mengajak Jerman memperluas kemitraan investasi pada sejumlah sektor strategis di tanah air, mulai dari energi baru terbarukan (EBT), hilirisasi industri, hingga pengembangan kendaraan listrik.

Ajakan ini disampaikan langsung oleh Prabowo ketika menyambut kunjungan kenegaraan dari Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (15/6).

Agenda pertemuan tersebut menjadi sebuah momentum penting untuk memperkokoh hubungan bilateral antara Indonesia dan Jerman yang kini telah menginjak usia 75 tahun.

Prabowo memandang bahwa kolaborasi antara kedua negara ini harus terus ditingkatkan, terutama guna menyokong percepatan program industrialisasi di Indonesia.

"Indonesia juga mengundang pihak Jerman untuk memperluas investasi di sektor-sektor yang penting di Indonesia," ujar Prabowo.

Prabowo memaparkan beberapa sektor potensial yang memiliki prospek besar untuk digarap bersama Jerman, di antaranya energi baru dan terbarukan, hilirisasi industri, semikonduktor, hingga industri kendaraan listrik.

Di samping itu, pemerintah Indonesia pun membuka peluang kolaborasi dalam mengelola rantai pasok mineral kritis serta unsur tanah jarang yang krusial bagi penguatan sektor industri nasional.

Bagi Prabowo, jalinan kemitraan dengan Jerman bernilai sangat strategis mengingat negara tersebut memegang posisi ekonomi yang sangat kuat di kawasan Eropa.

“Kami butuh kemitraan yang baik dengan Jerman dan dengan Eropa. Kunjungan Presiden Jerman kali ini adalah tanda bahwa hubungan itu sangat penting,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengungkapkan bahwa Indonesia mempunyai daya pikat yang besar bagi para investor, tidak cuma karena potensi pasarnya yang masif, melainkan juga berkat peluang pengembangan industrinya.

Ia mencontohkan beberapa korporasi besar asal Jerman yang sudah cukup lama menjalankan operasionalnya di Indonesia, seperti Siemens dan Daimler.

Kondisi tersebut memperlihatkan wujud nyata kepercayaan dari dunia usaha Jerman terhadap potensi perekonomian yang dimiliki Indonesia.

Steinmeier turut menegaskan bahwa pemerintah Jerman bakal senantiasa memberikan dukungan terhadap proses ratifikasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA).

Ia menilai implementasi perjanjian tersebut kelak mampu membentangkan peluang investasi baru, sekaligus memicu lebih banyak lagi perusahaan skala kecil dan menengah dari Jerman untuk merambah pasar Indonesia.

"Kerja sama ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kerja sama yang lebih erat antara perusahaan Jerman dan Indonesia di bidang inovasi. Yang mulia Bapak Presiden, saya rasa itu menguntungkan bagi kedua belah pihak, bagi kedua negara," jelas Steinmeier.

Sinergi Indonesia-Jerman di masa mendatang ini diharapkan tidak sekadar memperkokoh ikatan ekonomi, tetapi juga mampu menopang transformasi industri, akselerasi teknologi, serta percepatan ekosistem ekonomi hijau di Indonesia.

Reporter: David Ilham