Ratusan Juta Penduduk Dunia Masih Hidup Tanpa Akses Listrik
JAKARTA - Sebanyak 655 juta jiwa atau sekitar 8 persen penduduk dunia masih menjalani kehidupan tanpa akses listrik hingga tahun 2024.
Sebagian besar populasi yang belum merasakan layanan energi mendasar tersebut berdomisili di kawasan Afrika Sub-Sahara.
Temuan ini termuat dalam dokumen terkini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berjudul Tracking SDG 7: The Energy Progress Report yang diterbitkan pada Rabu (24/6/2026).
Dokumen tersebut pun mencatat sekitar 1,8 miliar orang masih memanfaatkan teknologi serta bahan bakar memasak yang berisiko bagi kesehatan serta menimbulkan polusi.
Afrika Sub-Sahara merupakan daerah yang paling tertinggal perihal akses energi.
Lebih dari 560 juta penduduk di sana belum mendapatkan aliran listrik, sementara sekitar 970 juta orang masih kekurangan akses terhadap fasilitas memasak yang aman serta bersih.
PBB menyatakan bahwa kecepatan pembangunan infrastruktur energi di wilayah tersebut wajib ditingkatkan hingga tiga kali lipat agar sasaran akses listrik universal pada 2030 dapat terwujud.
Tanpa adanya percepatan yang nyata, jutaan penduduk diprediksi akan terus tertinggal dari jangkauan layanan energi modern.
Di tengah hambatan tersebut, dokumen mencatat adanya kemajuan positif di sektor energi terbarukan.
Penggunaan energi bersih terus melonjak serta saat ini berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap konsumsi listrik dunia.
Kemajuan ini dianggap belum memadai untuk mencapai sasaran Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 7 yang mengupayakan akses energi modern, berkelanjutan, andal, serta terjangkau bagi seluruh penduduk bumi pada 2030.
PBB mengingatkan bahwa dunia masih berada di jalur yang belum selaras dengan sasaran tersebut.
Kesenjangan akses energi antarnegara masih lebar, sedangkan dampak krisis energi dunia terus memengaruhi perekonomian serta pasar energi internasional.
Dokumen ini menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor serta kepemimpinan politik yang lebih solid untuk mempercepat pemerataan akses energi, khususnya bagi komunitas serta negara yang paling tertinggal.
Selain itu, kebijakan yang konsisten dianggap krusial guna memperluas penggunaan energi terbarukan, menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta memperkuat ketahanan ekonomi dalam menghadapi gangguan rantai pasok dunia.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB Urusan Ekonomi serta Sosial, dari Sumbernya, menyebut beberapa perkembangan positif telah tercapai beberapa tahun terakhir, khususnya dalam perluasan akses energi yang terjangkau serta bersih.
“Kami telah melihat kemajuan yang menggembirakan dalam perluasan akses energi yang terjangkau, andal, dan bersih. Namun jutaan orang masih belum memiliki akses, sehingga kemajuan yang ada belum sejalan dengan ambisi SDG 7,” ujar Li, Rabu (24/6/2026).
Dari Sumbernya menegaskan bahwa krisis energi dunia saat ini seharusnya dijadikan momentum untuk mempercepat transisi menuju energi bersih.
Menurut dari Sumbernya, hal itu hanya dapat terwujud melalui peningkatan investasi serta dukungan internasional dalam skala yang jauh lebih besar.