Laba Turun Tapi Tetap Royal, Matahari Usulkan Dividen Rp250 per Saham untuk Tahun Buku 2025
- Rabu, 04 Maret 2026
JAKARTA - Di tengah tekanan kinerja yang mengalami koreksi sepanjang 2025, emiten ritel modern PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) tetap menunjukkan komitmen kepada pemegang saham. Perseroan mengusulkan pembagian dividen sebesar Rp250 per saham untuk tahun buku 2025.
Keputusan tersebut diambil meskipun pendapatan dan laba bersih perseroan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Langkah ini mencerminkan kebijakan yang tetap memperhatikan keseimbangan antara imbal hasil investor dan kebutuhan ekspansi usaha.
Sepanjang 2025, LPPF membukukan pendapatan bersih sebesar Rp5,78 triliun. Angka ini terkoreksi 9,6% dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai Rp6,39 triliun.
Baca Juga
Penurunan pendapatan tersebut berdampak pada laba bersih perusahaan. Laba bersih LPPF menyusut 12,4% secara tahunan menjadi Rp725,4 miliar dari Rp827,7 miliar pada 2024.
Dengan capaian tersebut, laba bersih per saham tercatat sebesar Rp324 per akhir 2025. Nilai itu turun dari Rp366 per saham pada akhir 2024.
Meski laba mengalami tekanan, LPPF tetap berkomitmen membagikan dividen. Kebijakan ini menunjukkan konsistensi perseroan dalam menjaga kepercayaan investor.
Rincian Usulan Dividen dan Rasio Pembayaran
Melalui dokumen paparan publik yang dipublikasikan di IDX, manajemen LPPF menyampaikan usulan pembagian dividen tersebut. Nilai dividen disebut telah disesuaikan dengan proyeksi kebutuhan belanja modal perseroan.
“Usulan dividen sebesar Rp250 per saham untuk didistribusikan pada 2026,” tulisnya, dikutip Rabu, 4 Maret 2026. Pernyataan ini menegaskan rencana distribusi dividen yang akan dilakukan tahun depan.
Dengan jumlah saham beredar sebanyak 2.258.279.280 lembar, total dividen yang berpotensi dibagikan mencapai Rp564,56 miliar. Estimasi tersebut menjadi salah satu komponen utama dalam alokasi laba bersih 2025.
Jumlah dividen itu setara dengan 77,82% dari laba bersih tahun buku 2025. Rasio pembayaran ini menunjukkan sebagian besar laba tetap dialokasikan untuk pemegang saham.
Meski demikian, nilai dividen yang diusulkan lebih rendah dibandingkan tahun buku 2024. Pada periode sebelumnya, LPPF membagikan Rp300 per saham yang didistribusikan pada 2025.
Penyesuaian besaran dividen ini sejalan dengan penurunan laba bersih yang terjadi sepanjang 2025. Manajemen tampaknya memilih pendekatan yang lebih konservatif guna menjaga keseimbangan keuangan.
Dalam laporan arus kas, tercatat pembayaran dividen sebesar Rp451,85 miliar pada 2024. Sementara itu, pada 2025 nilai pembayaran dividen tercatat sebesar Rp668,18 miliar.
Angka tersebut mencerminkan konsistensi perusahaan dalam membagikan laba kepada pemegang saham. Kebijakan dividen tetap menjadi salah satu daya tarik utama saham LPPF.
Strategi Bisnis 2026 untuk Dorong Pertumbuhan
Selain membahas pembagian dividen, manajemen juga memaparkan rencana bisnis untuk 2026. Terdapat empat strategi utama yang akan dijalankan perseroan.
Strategi pertama adalah mempercepat penetrasi merek eksklusif dan pengembangan koleksi terkurasi. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing produk di tengah perubahan preferensi konsumen.
Kedua, perusahaan akan mengoptimalkan jaringan gerai dengan memperluas kehadiran SUKO, ZES, dan MU+KU. Ekspansi dilakukan di lokasi-lokasi strategis untuk memperkuat posisi pasar.
Ketiga, LPPF berfokus pada peningkatan keekonomian gerai. Upaya ini dilakukan dengan mendorong produktivitas ruang serta meningkatkan Gross Margin Return on Space atau GMROS.
Optimalisasi ruang penjualan menjadi bagian penting dalam menjaga efisiensi operasional. Dengan produktivitas yang lebih tinggi, perusahaan berharap margin dapat terdongkrak.
Strategi keempat adalah memperkuat eksekusi omnichannel. Pendekatan ini dilakukan melalui disiplin koleksi dan integrasi pemasaran offline serta online yang lebih ketat.
Integrasi kanal penjualan dinilai penting untuk menjawab perubahan perilaku belanja konsumen. Konsumen kini semakin terbiasa bertransaksi secara daring maupun luring secara bersamaan.
Melalui strategi omnichannel yang lebih solid, LPPF berupaya meningkatkan pengalaman pelanggan. Pendekatan ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan penjualan ke depan.
Menjaga Keseimbangan antara Imbal Hasil dan Ekspansi
Usulan dividen Rp250 per saham menjadi sinyal bahwa perusahaan tetap memprioritaskan kepentingan investor. Di sisi lain, manajemen tetap memperhitungkan kebutuhan belanja modal untuk mendukung ekspansi.
Pendekatan yang seimbang ini menjadi penting di tengah kondisi pasar ritel yang dinamis. Perusahaan harus mampu menjaga likuiditas sekaligus memastikan strategi pertumbuhan berjalan optimal.
Penurunan laba bersih 2025 menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen. Namun, kebijakan dividen yang tetap agresif menunjukkan keyakinan terhadap prospek bisnis jangka panjang.
Rasio pembayaran sebesar 77,82% memperlihatkan komitmen kuat terhadap pemegang saham. Meski lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, angka tersebut tetap tergolong tinggi.
Dengan strategi bisnis yang telah disusun untuk 2026, LPPF berupaya membalikkan tren penurunan kinerja. Fokus pada merek eksklusif, optimalisasi gerai, efisiensi ruang, dan omnichannel menjadi fondasi utama.
Ke depan, efektivitas implementasi strategi tersebut akan menjadi faktor penentu performa keuangan. Investor pun akan mencermati realisasi rencana tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan.
Melalui kombinasi kebijakan dividen yang terukur dan strategi ekspansi yang terarah, LPPF berupaya mempertahankan daya tariknya di pasar modal. Komitmen ini menjadi penegasan bahwa perusahaan tetap optimistis menghadapi dinamika industri ritel.
Nathasya Zallianty
variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
TransJakarta Gratiskan Semua Layanan Transportasi Umum Saat Idul Fitri 2026
- Rabu, 04 Maret 2026









