Sabtu, 02 Mei 2026

Investor Kripto Indonesia Tembus 21 Juta Saingi Pasar Modal Nasional

Investor Kripto Indonesia Tembus 21 Juta Saingi Pasar Modal Nasional
Investor Kripto Indonesia Tembus 21 Juta Saingi Pasar Modal Nasional

JAKARTA - Lonjakan jumlah investor kripto di Indonesia kini menjadi fenomena yang tidak bisa diabaikan oleh pelaku industri keuangan. 

Pertumbuhan pesat ini bahkan mulai menyaingi dominasi pasar modal yang selama ini menjadi instrumen investasi utama masyarakat. Perubahan preferensi ini menunjukkan pergeseran minat investor ke aset digital yang semakin populer.

Pasar kripto di Indonesia beneran lagi booming. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah investor kripto di tanah air resmi menembus angka 21,07 juta akun per Februari 2026. Angka ini jadi sinyal merah buat pasar saham konvensional karena selisih jumlah investornya sekarang makin tipis.

Baca Juga

Inovasi AI Jadi Mesin Baru Mobil Listrik Xiaomi dan Huawei

Bahkan, pada Januari kemarin, jumlah “pemain” kripto sempat menyalip jumlah investor pasar modal sebelum akhirnya disalip balik tipis di bulan Februari.

Kejar Kejaran Jumlah Investor Kripto Dan Saham

Dinamika jumlah investor di awal 2026 ini beneran bikin geleng-geleng kepala. Pergerakan angka antara kripto dan pasar modal menunjukkan persaingan yang semakin ketat di industri investasi nasional.

Januari 2026: Kripto menang tipis di angka 21,07 juta, sementara pasar modal tertahan di angka yang sama. Februari 2026: Pasar modal ngebut lagi ke 22,88 juta akun atau naik 12,34 persen.

Status sekarang menunjukkan kripto masih menempel ketat di posisi kedua dengan 21,07 juta akun. Meski sempat disalip balik, fakta bahwa 21 juta orang Indonesia sudah punya akun kripto membuktikan kalau aset digital bukan lagi investasi pinggiran.

Pertumbuhan Investor Tidak Sejalan Dengan Transaksi

Ada hal unik yang terjadi di tengah lonjakan jumlah investor tersebut. Meski jumlah akun terus bertambah, nilai transaksi kripto justru mengalami penurunan dalam periode yang sama.

Nilai transaksi di bulan Februari tercatat sebesar Rp29,4 triliun, turun dibanding Januari yang mencapai Rp37,29 triliun. Fenomena ini menjadi perhatian karena menunjukkan adanya perbedaan antara minat masuk dan aktivitas perdagangan.

Kondisi ini menandakan bahwa tidak semua investor baru langsung aktif bertransaksi. Sebagian kemungkinan masih dalam tahap observasi atau menunggu momentum yang lebih tepat.

Faktor Global Pengaruhi Aktivitas Perdagangan

OJK menyebut penurunan ini bukan karena industrinya lemah, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal yang cukup signifikan terhadap pasar global.

Tensi dunia yang memanas seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta konflik di Timur Tengah membuat investor cenderung mengambil sikap hati hati atau risk off. Selain itu, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi turut menekan likuiditas global.

Pasar juga sedang berada dalam fase normalisasi setelah sebelumnya mengalami reli tinggi pasca Bitcoin Halving 2024. Hal ini membuat pergerakan transaksi menjadi lebih terkendali.

OJK Ingatkan Investor Tidak Sekadar Ikut Tren

Di tengah euforia meningkatnya jumlah investor, OJK melalui Kepala Eksekutif Adi Budiarso memberikan peringatan agar masyarakat tidak hanya ikut ikutan tren tanpa pemahaman yang cukup.

“Kita bertransaksi kripto harus seimbang. Harus berbasis pada fundamental dan analisis data yang kuat,” ujar Adi dalam pembukaan Bulan Literasi Kripto 2026.

Pernyataan ini menegaskan pentingnya edukasi bagi investor agar tidak terjebak dalam keputusan yang didasarkan pada emosi semata.

Upaya Peningkatan Literasi Investor Kripto Nasional

Regulator bersama bursa kripto seperti CFX dan ICEx saat ini tengah fokus meningkatkan literasi investor melalui berbagai program edukasi. Kegiatan ini berlangsung sepanjang April hingga Mei dengan tujuan memperkuat pemahaman investor.

Langkah ini diharapkan mampu menciptakan investor yang tidak hanya sekadar memiliki akun, tetapi juga memahami risiko dan peluang di pasar kripto. Dengan demikian, potensi kerugian akibat keputusan yang kurang tepat dapat diminimalkan.

Analisis dibuat pada Kamis, 9 April 2026 oleh Panji Yudha, Financial Expert Ajaib Sekuritas.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Jaecoo 7 Tawarkan Solusi Berkendara Hemat di Booth Kota Kasablanka

Jaecoo 7 Tawarkan Solusi Berkendara Hemat di Booth Kota Kasablanka

Torehkan Prestasi Mendunia, PLN Indonesia Power Borong 9 Penghargaan di Ajang Global CSR & ESG Awards 2026

Torehkan Prestasi Mendunia, PLN Indonesia Power Borong 9 Penghargaan di Ajang Global CSR & ESG Awards 2026

Prancis Bidik Jadi Arab Saudi Eropa Lewat Ekspor Listrik Bersih

Prancis Bidik Jadi Arab Saudi Eropa Lewat Ekspor Listrik Bersih

PLN Rampungkan Kajian Jaringan Listrik Hijau Jawa-Sumatra

PLN Rampungkan Kajian Jaringan Listrik Hijau Jawa-Sumatra

Lingkar Kediri Resmi Rilis, Mbak Wali Teken Aksi Literasi Hijau

Lingkar Kediri Resmi Rilis, Mbak Wali Teken Aksi Literasi Hijau