Sabtu, 16 Mei 2026

Baterai Garam Mulai Diproduksi, Belum Mampu Geser LFP

Baterai Garam Mulai Diproduksi, Belum Mampu Geser LFP
Baterai Garam Mulai Diproduksi (FOTO: NET)

JAKARTA - Nominal harga kendaraan listrik saat ini dinilai masih relatif tinggi bila dikomparasikan dengan mobil bermesin konvensional.

Komponen baterai menjadi faktor utama yang menyebabkan tingginya nilai jual sebuah EV.

Kurang lebih sekitar 30 hingga 40 persen dari total harga mobil listrik dialokasikan hanya untuk membiayai pengadaan sistem baterainya.

Baca Juga

Rusia Lanjutkan Proyek Migas Blok Tuna Mulai Juni 2026

Terdapat optimisme bahwa apabila inovasi teknologi baterai terus maju dan berhasil menciptakan opsi dengan harga yang lebih terjangkau, maka harga jual kendaraan listrik di pasaran otomatis akan ikut terpangkas.

Sektor industri baterai global pun tengah berkompetisi melahirkan pembaruan demi menyajikan baterai murah, di mana salah satu opsi yang populer dibicarakan adalah baterai natrium atau baterai sodium yang memanfaatkan garam sebagai material utamanya.

Peluang untuk melangkah ke fase pembuatan secara massal kini mulai dieksplorasi dan diprediksi berjalan melampaui estimasi waktu sebelumnya.

Berdasarkan laporan dari Arenaev.com, korporasi bernama Pret mengonfirmasi bahwa proses manufaktur baterai berbasis garam ini telah berjalan.

Untuk saat ini, baterai komoditas garam tersebut dirakit guna memenuhi kebutuhan penyimpanan energi, sumber daya cadangan, mekanisme start-stop pada mobil, hingga kendaraan operasional khusus.

Angka permintaannya yang terus melonjak membuat fasilitas pabrik ini menambah komitmen investasi pada sektor jalur produksi dengan daya tampung mencapai 2 GWh.

Di sudut lain, produsen raksasa baterai yaitu CATL resmi menyepakati kontrak distribusi selama tiga tahun bersama pihak HyperStrong.

Kontrak kerja sama tersebut mengamankan suplai sebesar 60 GWh baterai berbasis natrium.

Selaras dengan langkah tersebut, unit usaha di bawah CATL yakni Fuding Times telah mempublikasikan ekspansi proyek baterai anyar senilai $735 juta guna memasok daya tampung tambahan sebesar 40 GWh pada total kapasitas produksi mereka.

Sistem baterai ion natrium ini mengandalkan ketersediaan bahan baku yang jauh lebih gampang diperoleh ketimbang lithium, di samping karakteristiknya yang juga dikenal sangat stabil.

Kendati demikian, apabila ditinjau dari parameter performa, teknologi ini memang dirasa masih belum mampu menggeser dominasi baterai lithium ferro phosphate (LFP).

Oleh karena itu, kehadiran baterai ion natrium bukan dirancang untuk menyingkirkan posisi LFP, melainkan bertindak sebagai elemen pelengkap.

Secara prinsip dasar, densitas atau kepadatan energi yang dimiliki oleh baterai Ion Natrium posisinya masih berada di bawah standar baterai LFP.

Merujuk pada data yang dirilis oleh Benchmark Mineral Intelligence, komponen baterai LFP mengusung kepadatan energi di angka 160-200 Wh/kg, sementara varian Ion Natrium berada di level 100-170 Wh/kg yang memposisikan LFP menjadi opsi paling selaras untuk diaplikasikan pada kendaraan listrik berdimensi besar dengan daya jelajah yang lebih jauh.

Melihat pada rincian spesifikasi fundamental serta kesiapan teknologi yang tersedia pada masa sekarang, disimpulkan bahwa baterai bermaterial garam ini belum dapat menggantikan fungsi dari baterai LFP.

David Ilham

David Ilham

variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Kepri Optimalkan Participating Interest Migas demi Ekonomi Daerah

Kepri Optimalkan Participating Interest Migas demi Ekonomi Daerah

Aplikasi Xstar Diakselerasi untuk BBM Subsidi Tepat Sasaran di Kepri

Aplikasi Xstar Diakselerasi untuk BBM Subsidi Tepat Sasaran di Kepri

Zarubezhneft, Perusahaan Migas Rusia yang Siap Investasi di RI

Zarubezhneft, Perusahaan Migas Rusia yang Siap Investasi di RI

Azhari Akhiri Masa Jabatan di SKK Migas Kalimantan-Sulawesi

Azhari Akhiri Masa Jabatan di SKK Migas Kalimantan-Sulawesi

Harga Emas dan Tembaga Turun, Saham Pertambangan Merosot

Harga Emas dan Tembaga Turun, Saham Pertambangan Merosot