Konsumsi Nikel Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 21 Mei 2026
Konsumsi Nikel Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035
Ilustrasi baterai kendaraan listrik (FOTO: NET)

JAKARTA - Konsumsi nikel untuk produksi baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) diprediksi melonjak hingga 1,7 juta ton pada 2035, tumbuh 218 persen secara global.

CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet menyampaikan bahwa capaian ini merepresentasikan 30 persen permintaan nikel global.

"Angka ini lebih rendah dibanding yang diperkirakan orang-orang pada awal perkembangan kendaraan listrik. Saya pikir ambisi baterai berbasis nikel dulu jauh lebih tinggi, tetapi perkembangan baru baterai LFP, yaitu baterai tanpa nikel pada dasarnya mengurangi potensi pertumbuhan nikel," kata Jerome dalam Exclusive Media Briefing: Eramet Outlook 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).

Walaupun demikian, permintaan nikel dari sektor baterai EV tetap memperlihatkan tren pertumbuhan yang kuat dalam jangka panjang sejalan dengan kian meningkatnya adopsi kendaraan listrik di dunia.

Menurut penuturan Jerome, Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang produksi nikel paling besar.

Pada tahun 2014 silam Indonesia hanya memproduksi sekitar 8 persen dari total produksi nikel dunia, kemudian angka tersebut melonjak drastis menjadi 65 persen pada tahun 2025.

Jerome memaparkan, dengan adanya kapasitas produksi baru yang saat ini masih terus dibangun, Indonesia diproyeksikan mampu menguasai hingga 75-80 persen produksi nikel secara global dalam beberapa tahun ke depan.

"Jadi Indonesia pada dasarnya adalah pusat kekuatan produksi nikel dunia, dan apa yang terjadi di Indonesia pada pasar nikel akan memengaruhi seluruh pasar nikel dunia," jelas dia.

Jerome menuturkan bahwa industri nikel di dalam negeri telah mengalami transformasi yang sangat besar dalam beberapa tahun belakangan.

Pada masa sebelumnya, mayoritas hasil produksi nasional berbentuk nickel pig iron (NPI) yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan stainless steel.

Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia mulai mengimplementasikan teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) guna mengolah nikel murni, serta zat kimia nikel yang amat dibutuhkan oleh industri baterai kendaraan listrik maupun sektor khusus seperti dunia penerbangan.

"Indonesia memulai pengembangannya dengan nickel pig iron dan pirometalurgi, lalu masuk ke fase kedua pengembangan dengan HPAL sekitar tiga tahun terakhir," beber Jerome.

Sebelumnya, komoditas ekspor memang didominasi oleh NPI.

Akan tetapi saat ini material penunjang baterai layaknya mixed hydroxide precipitate (MHP), matte, hingga logam nikel juga sudah mulai diekspor dengan porsi mencapai kisaran 30 persen.

"Ini perubahan besar dibanding profil produk yang diproduksi Indonesia lima tahun lalu, dan sekali lagi Indonesia merepresentasikan 65 persen produksi (nikel) dunia," imbuh dia.

Dalam momen tersebut, Jerome turut berpendapat bahwa pasar nikel global sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan pada tahun ini setelah sempat mengalami kelebihan pasokan (oversupply) selama kurun waktu lima tahun terakhir.

Di sepanjang tahun 2020-2025, pasar nikel memang sempat dibanjiri oleh pasokan yang melimpah sehingga mengakibatkan harga terus tertekan dan volume inventori kian meningkat di berbagai negara.

Pemerintah Indonesia sendiri melakukan pembatasan terhadap produksi bijih nikel lewat kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sekaligus mengerek Harga Patokan Mineral (HPM).

"HPM telah mengubah formulanya dan pada dasarnya meningkatkan harga dasar saprolit secara signifikan, yang digunakan untuk nickel pig iron serta limonit yang digunakan untuk produksi HPAL," sebut dia.

Regulasi baru tersebut dinilai menguntungkan pihak perusahaan tambang sebab harga bijih kini menjadi lebih adil dan mencerminkan kadar kandungan mineral yang ada di dalamnya.

Meski begitu, kenaikan HPM ini di sisi lain menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi korporasi pengolahan nikel, terutama untuk pabrik berbasis HPAL yang memproduksi bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Sejumlah perusahaan HPAL kini musti berhadapan dengan lonjakan biaya produksi yang membubung tinggi sebagai imbas dari terkereknya harga sulfur.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua