Medco Energi Sebut Gas Alam Topang Transisi Energi di Asia

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 25 Mei 2026
Medco Energi Sebut Gas Alam Topang Transisi Energi di Asia
Salah satu fasilitas produksi migas milik Medco (FOTO: NET)

TANGERANG – Banyak pihak merasa cemas terkait potensi melambatnya agenda transisi energi, terutama karena situasi geopolitik saat ini yang dinilai penuh dengan ketidakpastian.

Meski begitu, program peralihan energi yang direncanakan oleh banyak negara diperkirakan akan terus berjalan, yang dibuktikan oleh permintaan terhadap komoditas gas yang tetap melonjak tinggi.

Berdasarkan laporan kuartalan paling baru dari IEA, kondisi pasar gas alam di tingkat global diproyeksikan masih akan mengalami keketatan dalam jangka waktu dua tahun mendatang.

Akan tetapi, walaupun hambatan yang dihadapi tampak kian berat, fondasi dasar industri tetap menunjukkan bahwa gas alam bakal senantiasa menjadi elemen krusial dalam bauran energi global.

Pada jangka waktu yang sama di tahun sebelumnya, IEA sempat memperkirakan ketersediaan pasokan energi bakal bertambah sebesar 7 persen pada tahun 2026.

Melalui kehadiran sejumlah proyek anyar yang mulai berjalan serta pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga kuat di tengah kendala saat ini, pergerakan dinamis tersebut dipastikan tetap berlangsung.

CEO Mubadala Energi, Mansoor Muhamed Al Hamed, menyatakan bahwa prinsip dasar dari transisi energi tidak mengalami perubahan, yakni dengan mengoptimalkan penggunaan gas yang memproduksi emisi jauh lebih rendah dibandingkan jenis energi fosil lainnya.

“Kami harus menurunkan emisi, memperluas energi terbarukan, dan melakukan dekarbonisasi. Namun gas yang melimpah, andal, dan beremisi lebih rendah tetap akan menjadi bagian penting dari bauran energi,” jelas Mansoor sesi Global Executive Talk bertema The End of Easy Energi : The New Reality of Oil and Gas di IPA Convention and Exhibiton (IPA Convex) 2026, Rabu (20/5/2026).

Menurut pandangannya dalam situasi dunia yang sangat fluktuatif, gas memegang peran ganda sebagai bahan bakar untuk transisi sekaligus penyokong bagi ketahanan energi.

Mansoor memaparkan bahwa Mubadala Energy mempertegas komitmen perusahaan untuk mempercepat proses pengerjaan proyek gas yang berlokasi di Laut Andaman, Indonesia, di kala keperluan energi terus menanjak dan situasi geopolitik dunia diliputi ketidakpastian yang tinggi.

“Indonesia memiliki peluang luar biasa, mulai dari peningkatan permintaan energi, posisi geografis strategis, hingga potensi besar sumber daya laut dalam,” ujar Mansoor.

Di sisi lain, Direktur sekaligus CEO Medco Energi, Roberto Lorato, menyampaikan bahwa gas memiliki kemampuan untuk menggantikan peran batu bara, menyokong stabilitas energi terbarukan yang karakternya intermiten, sekaligus mencukupi keperluan pasar yang tingkat permintaan listriknya masih melaju jauh lebih cepat.

Medco yang diwakili oleh Roberto juga memperkirakan bahwa proses peralihan energi di tanah air dan sebagian besar wilayah Asia bakal disokong oleh ketersediaan gas.

“Transisi energi di kawasan ini akan dibangun melalui kombinasi gas dan energi terbarukan, bukan melalui pendekatan yang bersifat ekstrem,” jelas Roberto.

Negara Indonesia serta wilayah Asia dalam cakupan yang lebih luas dinilai masih memerlukan suntikan investasi yang lebih masif pada sektor hulu migas.

Oleh sebab itu, pihak Medco akan terus mengucurkan modal di sektor hulu tersebut, seraya mengembangkan proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) secara bertahap.

“Keduanya bukanlah sesuatu yang saling bertentangan, melainkan sama-sama dibutuhkan untuk masa depan energi,” ungkap Roberto.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua