Kembangkan Supergrid Energi Baru Terbarukan, NTB Cari Investor

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 25 Mei 2026
Kembangkan Supergrid Energi Baru Terbarukan, NTB Cari Investor
Foto udara pembangkit listrik tenaga surya yang membentang di Kecamatan Sambelia (FOTO: NET)

MATARAM - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengungkapkan bahwa rencana proyek supergrid energi baru terbarukan membutuhkan studi kelayakan sebagai tahapan perdana guna merealisasikan pusat pengembangan energi ramah lingkungan yang mengintegrasikan Kepulauan Sunda Kecil.

Kepala Dinas ESDM NTB Samsudin menyebutkan bahwa penyusunan studi kelayakan ini dilaksanakan usai cetak biru NTB dalam mendirikan jaringan transmisi wilayah luas terhambat oleh faktor nilai keekonomian.

"Hasil konsultasi kami dengan Dirjen Gatrik Kementerian ESDM bahwa untuk menjadi sebuah supergrid tidak mudah, salah satunya harus ada jaringan bawah laut," ujar dia.

Samsudin memaparkan bahwa pendirian jaringan transmisi wilayah luas tersebut memerlukan sarana infrastruktur yang masif, khususnya wujud jaringan kabel listrik bawah air di Selat Lombok yang mengintegrasikan NTB dengan Bali.

Pemerintah pusat menaksir bahwa infrastruktur kabel listrik bawah laut yang memasok energi ramah lingkungan itu baru bernilai layak untuk didirikan sekitar tahun 2031 sampai 2033.

"Kementerian ESDM melihat perkembangan penduduk dan sebagainya, sehingga kelayakan sekitar tahun 2031-2033 untuk menyambungkan jaringan kabel laut di Selat Lombok," kata Samsudin.

Kekayaan potensi energi bersih yang sangat melimpah di Nusa Tenggara Barat berasal dari air, surya, angin, arus air laut, limbah sampah, biomassa, hingga panas bumi.

Pihak Dinas ESDM NTB menghimpun data bahwa andil energi baru terbarukan di wilayahnya saat ini sudah menyentuh angka 25 persen.

Jumlah itu terhitung berskala tinggi jika disandingkan dengan bauran energi bersih di tingkat nasional yang tercatat baru menyentuh 15,75 persen lewat daya terpasang sebesar 15.630 megawatt.

Daya terpasang pada pembangkit energi baru terbarukan di wilayah NTB mencakup tenaga surya (PLTS) on grid sejumlah 21,6 megawatt, PLTS off grid yang dioperasikan oleh sektor industri pertambangan menyentuh 26,8 megawatt, dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) senilai 18,5 megawatt.

Pemerintah NTB gencar mempromosikan potensi investasi energi ramah lingkungan ini kepada beberapa kedutaan besar, pihak swasta, hingga lembaga nirlaba demi memperoleh sumber pembiayaan untuk pembangunan proyek jaringan transmisi wilayah luas itu.

"Dukungan anggaran kami terbatas. Gubernur telah meminta dukungan melalui mitra strategis, seperti kedutaan besar," pungkas Samsudin.

Mengacu pada laporan yang beredar sebelumnya, konsep NTB sebagai supergrid energi baru terbarukan sudah dicanangkan lewat forum kerja sama Bali-NTB-NTT (KRBN).

Agenda besar ini diproyeksikan menjadi gerakan strategis demi menyokong Indonesia dalam merealisasikan target emisi nol bersih.

Hingga kini Bali masih tergabung dalam sistem jaringan transmisi wilayah luas Pulau Jawa, sehingga untuk masa depan pasokan listrik bagi Bali ditargetkan akan dikirim dari Nusa Tenggara Barat serta Nusa Tenggara Timur.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua