Kapasitas Batu Bara Global Naik, Produksi Listrik Justru Turun

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 02 Juni 2026
Kapasitas Batu Bara Global Naik, Produksi Listrik Justru Turun
ilustrasi bahan bakar fosil (FOTO: NET)

JAKARTA - Sebuah ironi muncul dalam sektor energi dunia di tengah masifnya gerakan transisi energi hijau saat ini.

Kapasitas pembangkit listrik bertenaga batu bara di tingkat global tercatat mengalami peningkatan sebesar 3,5 % sepanjang tahun 2025 kemarin.

Akan tetapi, di balik bertambahnya jumlah infrastruktur tersebut, total realisasi listrik yang bersumber dari bahan bakar fosil ini malah memperlihatkan tren yang menurun.

Mengutip laporan terbaru dari Global Energy Monitor (GEM) yang dilansir AFP pada Sabtu (30/5/2026), lonjakan kapasitas ini utamanya dipicu oleh pembangunan sarana yang sangat masif di China dan India.

Melalui data dari lembaga yang telah mengawasi pergerakan pembangkit listrik batu bara selama lebih dari sepuluh tahun ini terlihat adanya dinamika yang menarik, yang mana kapasitas pembangkit batu bara di China melonjak tajam hingga 6 % pada tahun lalu.

Kendati demikian, output listrik riil dari sektor itu justru mengalami koreksi sebesar 1,2 %.

India pun menunjukkan fenomena yang tidak jauh berbeda, di mana kapasitas pembangkit di negara itu meningkat hampir 4 %, tetapi volume produksinya malah anjlok hingga mendekati angka 3 %.

Project Manager Global Coal Plant Tracker GEM sekaligus penyusun laporan itu, Christine Shearer, menjelaskan adanya dampak dari aspek politik serta ekonomi daerah di balik anomali tersebut.

"Di kedua negara tersebut, banyak provinsi dan negara bagian yang memimpin pengembangan batu bara merupakan wilayah penghasil batu bara utama. Mereka memiliki insentif ekonomi yang kuat untuk terus membangun pembangkit baru," jelas Shearer kepada AFP.

Meski batu bara masih menjadi faktor terbesar penyumbang emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global, hasil pemantauan ini memberikan angin segar bagi program penanggulangan perubahan iklim.

Faktor utama yang menyebabkan anjloknya produksi listrik dari batu bara ini adalah kian masifnya pemanfaatan energi terbarukan.

Pada masa sekarang, pendanaan untuk pembangkit listrik tenaga bayu dan panel surya kian ekonomis serta sangat melimpah.

Kedua jenis energi bersih tersebut terbukti sanggup mencukupi lonjakan kebutuhan listrik di skala global.

Efeknya pun terlihat sangat jelas pada konstelasi energi di dunia.

Keberhasilan penetrasi energi ramah lingkungan ini mampu memangkas total output listrik batu bara global sebesar 0,6 % pada tahun 2025 apabila dikomparasikan dengan tahun sebelumnya.

Kondisi ini memberikan sinyal yang kuat bahwa walaupun sarana batu bara terus didirikan, ketergantungan masyarakat dunia terhadap pasokan energinya mulai berkurang secara bertahap namun pasti.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua