Tips Mengisi Daya Mobil Listrik yang Benar agar Baterai Awet
JAKARTA - Populasi mobil listrik di tanah air kian meningkat seiring kian tersebarnya infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Akan tetapi, tidak sedikit pengguna mobil listrik yang masih mengira bahwa pengisian daya baterai wajib menyentuh angka 100 persen dalam setiap pengisian.
Padahal, menurut penjelasan para pakar, tindakan itu tidak selamanya dibutuhkan dan malah berisiko memperpanjang durasi pengisian daya.
Wakil Ketua Umum Bidang Humas dan Edukasi Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Achmad Rofiqi, memaparkan bahwa mengoperasikan mobil listrik memang menuntut wawasan baru lantaran sifatnya yang berlainan dengan mobil konvensional.
Dia menjabarkan, laju pengisian daya baterai mobil listrik tidak berjalan konstan di setiap tingkat kapasitas baterai.
Terdapat kurva khusus yang menjadi area paling efektif ketika melakukan pengecasan.
“Ketika mengisi daya di SPKLU, rentang pengisian yang paling optimal berada pada level 20 persen hingga 80 persen kapasitas baterai,” ujar Rofiqi, dikutip Senin (1/6/2026).
Di interval itu, komponen baterai dapat menyerap energi dengan kecepatan penuh sehingga waktu pengecasan menjadi lebih singkat.
Namun, situasi bakal bergeser apabila daya baterai telah menembus batas 80 persen.
Menurut Rofiqi, begitu menyentuh angka tersebut, sistem manajemen baterai bakal menurunkan laju pengecasan secara otomatis demi melindungi stabilitas serta keawetan baterai.
Dampaknya, durasi yang dihabiskan buat menambah daya dari posisi 80 persen menuju 100 persen dapat memakan waktu jauh lebih lama ketimbang pengisian dari kisaran 20 persen ke 80 persen.
Gejala seperti ini merupakan sifat mendasar dari tipe baterai lithium-ion yang kini disematkan pada mayoritas mobil listrik global.
Oleh sebab itu, para pemilik tidak harus selalu memaksakan pengisian hingga kapasitas penuh 100 persen, khususnya jika mobil cuma dipakai untuk mobilitas harian ataupun rute jarak menengah.
Menyetop pengisian di kisaran 80 persen pada dasarnya sudah memadai untuk menyokong rutinitas berkendara sehari-hari.
Bukan cuma memangkas waktu tunggu di area SPKLU, pola pengecasan di rentang ideal ini juga dianggap lebih produktif karena membuat pengendara bisa langsung meneruskan aktivitas tanpa mesti menanti fase pengisian yang melambat di akhir kapasitas.
Sejalan dengan terus bertumbuhnya komunitas pengguna mobil listrik di Indonesia, edukasi mengenai mekanisme pengisian daya yang benar menjadi salah satu faktor penentu untuk mengoptimalkan kenyamanan sekaligus efektivitas berkendara.