Trump Ngamuk ke Netanyahu Terkait Serangan Israel di Lebanon

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 03 Juni 2026
Trump Ngamuk ke Netanyahu Terkait Serangan Israel di Lebanon
Presiden AS, Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (FOTO: NET)

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dikabarkan sangat geram kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Trump menganggap tindakan yang dilakukan Netanyahu di Lebanon telah melewati batas.

Berdasarkan laporan Axios pada Selasa (2/6/2026), dua pejabat AS beserta satu sumber lain mengungkapkan bahwa Trump memarahi Netanyahu melalui sambungan telepon pada Senin (1/6).

Kemarahan Trump tersulut lantaran militer Israel kian menggencarkan intensitas serangan mereka ke Lebanon.

Trump berang karena langkah Israel menggempur kelompok milisi Hizbullah di Lebanon berpotensi merusak jalur diplomasi AS dengan Iran.

Bukan hanya itu, gempuran tersebut juga dianggap mengancam upaya pemeliharaan gencatan senjata regional yang kondisinya sedang rentan.

"Anda benar-benar gila (You are fucking crazy). Apa yang Anda lakukan?" cetus Trump kepada Netanyahu menurut laporan tersebut.

Ucapan keras itu dilayangkan Trump begitu mengetahui operasi militer Israel di Lebanon.

Axios turut mengabarkan bahwa dalam dialog lewat telepon itu, Trump menyentil persoalan hukum yang tengah menjerat Netanyahu.

Trump memperingatkan PM Israel tersebut mengenai sikapnya yang selama ini pasang badan secara terbuka dan berupaya memberikan sokongan politik.

Kegeraman itu mencuat sesaat setelah Trump menyatakan bahwa pihak Israel dan Hizbullah sudah mufakat untuk menyudahi konflik bersenjata.

Trump menyebutkan bahwa pembicaraan bersama Iran kembali berjalan sesudah sempat mandek akibat agresi Israel.

Lewat platform media sosial, Trump menyatakan Netanyahu telah berikrar tak akan menerjunkan tentara ke pinggiran selatan Beirut, sementara Hizbullah sepakat menyetop seluruh aksi serangan.

Pernyataan itu beredar setelah kantor berita Iran, Tasnim, mengabarkan bahwa Teheran sempat menangguhkan dialog demi memprotes gempuran Israel kepada Hizbullah.

"Saya melakukan panggilan yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Bibi Netanyahu, dari Israel, dan tidak akan ada pasukan yang pergi ke Beirut, dan pasukan mana pun yang sedang dalam perjalanan telah dipulangkan," tulis Trump.

"Demikian pula, melalui perwakilan yang berkedudukan tinggi, saya melakukan panggilan yang sangat baik dengan Hizbullah, dan mereka setuju bahwa semua penembakan akan dihentikan--bahwa Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel," tambah Trump.

Lewat unggahan yang berbeda, Trump menegaskan bahwa proses negosiasi dengan Republik Islam Iran masih berjalan dengan cepat.

Di pihak lain, Netanyahu tetap berkukuh untuk meneruskan agresi di wilayah Lebanon selatan dengan alasan mengincar Hizbullah.

Sikap ini diutarakan walaupun Trump mengaku telah sukses memediasi kedua belah pihak guna menyetop peperangan.

"Saya telah berbicara malam ini dengan Presiden Trump dan mengatakan kepadanya bahwa jika Hizbullah tidak berhenti menyerang kota-kota dan warga negara kami, Israel akan menyerang target-target teror di Beirut," tegas Netanyahu sebagaimana dilansir Anadolu Agency.

"Posisi kami tetap tidak berubah. Pada saat yang sama, militer akan terus beroperasi sesuai rencana di Lebanon selatan," sambungnya.

Pemberitaan media Israel mengabarkan bahwa kontak telepon itu terjadi di tengah memanasnya situasi militer Israel dan selang beberapa jam usai Netanyahu menginstruksikan serangan udara di Beirut.

Lembaga penyiaran Israel, KAN, mengabarkan bahwa agenda pemboman di pinggiran selatan Beirut sejatinya diagendakan pada Senin (1/6) pagi, tetapi sempat tertunda lantaran adanya campur tangan AS.

Lonjakan tensi militer ini memantik peringatan berdarah-darah dari Iran.

Mohsen Rezaei, selaku penasihat pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menggarisbawahi lewat media sosial X bahwa eskalasi lanjutan di Lebanon tak akan dibiarkan begitu saja sebab batasan sabar angkatan bersenjata Iran ada batasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua