SKK Migas Targetkan 617 Sumur Pengembangan di 2026

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 03 Juni 2026
SKK Migas Targetkan 617 Sumur Pengembangan di 2026
Aktivitas pemboran Pertamina (FOTO: NET)

JAKARTA - Langkah mendongkrak hasil produksi minyak dalam negeri terus dipacu di kala penurunan output tengah melanda beberapa lapangan andalan.

Hingga penutupan tahun 2026, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mematok target pengeboran untuk 617 sumur pengembangan yang diproyeksikan mampu menyumbang suplai tambahan minyak mentah berkisar 100 sampai 200 barel per hari (bopd) pada tiap sumurnya.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyebutkan bahwa agenda pengeboran beserta pembenahan sumur merupakan bagian dari taktik utama demi mempertahankan bahkan menaikkan volume produksi migas domestik.

“Insya Allah kegiatan pengeboran dan workover selanjutnya juga bisa mendapatkan hasil yang lebih besar dari target,” ujar Djoko dalam keterangannya kepada Dunia Energi, Selasa (2/6).

Rasa optimis itu dipicu oleh performa sejumlah proyek operasional yang sukses melewati estimasi, salah satunya lewat agenda well intervention pada sumur AKP-002 di Field Jatibarang, Jawa Barat.

Proyek tersebut diawali semenjak 11 Mei 2026 dengan memanfaatkan rig berkekuatan 550 HP.

Letak sumur AKP-002 sendiri berada di Field Jatibarang yang memiliki sasaran pokok mengeksekusi re-perforasi lapisan GL di kedalaman interval 2.340–2.346 meter measured depth (mMD), perforasi lapisan CGL di kedalaman interval 2.334,5–2.340 mMD, beserta pengerjaan CTU solvent dan proses unload via nitrogen (N2).

Dari sisi operasional, pembenahan sumur dieksekusi memfungsikan Rig ADI#12 dengan total durasi pengerjaan menguras waktu 17 hari.

Tepat pada 28 Mei 2026, operasional rig dinyatakan telah rampung (release) untuk kemudian diteruskan ke tahap pengujian produksi.

Sebagai hasilnya, sumur AKP-002 mampu memproduksi minyak mentah dengan catatan laju alir akhir mencapai 2.546 BOPD secara natural flow, menyalip jauh dari perkiraan awal yang hanya sebesar 896 BOPD atau setara hampir tiga kali lipat dari target semula.

Bukan hanya itu, sumur tersebut pun bisa langsung dialirkan atau put on production (POP) seketika setelah seluruh pengerjaan selesai dilakukan.

Pencapaian manis ini menjadi indikator positif bagi pergerakan kenaikan laju produksi domestik yang kini tengah berhadapan dengan problem penurunan produksi alami (natural decline) di beberapa wilayah lapangan raksasa.

Output minyak dalam negeri pada kurun beberapa tahun belakangan ini memang terhambat gara-gara merosotnya produktivitas di sejumlah titik aset utama, termasuk blok lapangan di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan di Riau serta area sumur minyak kelolaan ExxonMobil di Blok Cepu.

Keadaan ini memaksa pihak pemerintah bersama SKK Migas bergerak makin ofensif dalam mengeksekusi program pengeboran baru, workover, serta pemeliharaan sumur guna mengerem laju penyusutan produksi berskala nasional.

Di samping mengejar target 617 sumur pengembangan, menuju akhir periode 2026 SKK Migas turut membidik pengeboran pada 34 sumur eksplorasi, yang diproyeksikan membuahkan beberapa temuan sumber daya (discovery) baru baik berupa minyak bumi maupun gas, khususnya di kawasan offshore Kalimantan Timur dan Papua.

Bukan itu saja, sektor industri hulu migas tanah air juga bakal melangsungkan 564 agenda workover yang dipatok mampu menyumbangkan deviasi produksi rata-rata berkisar 20 BOPD untuk tiap sumurnya, ditambah 25.265 agenda well service/perawatan sumur yang berpeluang memberikan tambahan rata-rata mendekati 10 BOPD per sumur.

Perpaduan program eksplorasi, pengeboran sumur pengembangan, pembenahan ulang (workover), dan pemeliharaan sumur menjadi instrumen krusial dalam menjaga stabilitas produksi migas domestik sekaligus menyokong misi kenaikan lifting minyak dan gas bumi yang ditetapkan oleh pemerintah.

Melalui sederet strategi tersebut, SKK Migas menaruh harapan besar agar pasokan tambahan produksi dari berbagai ladang minyak di Indonesia bisa menutup penurunan alamiah dari sumur-sumur tua sekaligus memperkokoh ketahanan energi dalam negeri.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua