Pertamina Dukung Pengolahan Sampah Energi Surya di Desa Keliki

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 03 Juni 2026
Pertamina Dukung Pengolahan Sampah Energi Surya di Desa Keliki
Komisaris Independen PT Pertamina (Persero) (FOTO: NET)

JAKARTA - Pertamina mempunyai komitmen penuh untuk menyokong kelestarian lingkungan hidup dan mendongkrak perekonomian warga lewat inisiatif Desa Energi Berdikari.

Inisiatif tersebut menuntun kawasan pedesaan agar mengoptimalkan pasokan energi bersih demi mewujudkan kemandirian warga melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan.

Desa Energi Berdikari Keliki yang terletak di wilayah Kecamatan Tegalallang, Kabupaten Gianyar, Bali, menjadi salah satu daerah binaan Pertamina yang menghadirkan energi hijau terbarukan.

Kawasan ini menjalankan aktivitas utama berupa proses pengolahan limbah sampah menjadi pupuk kompos sekaligus memperkuat ketahanan pangan lewat pengaplikasian sistem cocok tanam yang ramah lingkungan.

Pasokan energi untuk operasional pengolahan limbah serta mesin pompa penggerak irigasi area persawahan ditopang oleh fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

"Di Desa Keliki setidaknya menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari, dengan produktivitas yang sangat tinggi tersebut kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu - Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan mengolah sampah," ujar Local Hero sekaligus Ketua BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) Yowana Bakti Keliki, I Wayan Sumada dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).

Pernyataan itu diutarakan ketika rombongan Dewan Komisaris Pertamina melakukan kunjungan kerja ke kawasan Desa Energi Berdikari Keliki pada hari Kamis, 28 Mei 2026.

I Wayan memaparkan bahwa demi menyokong program pemrosesan limbah sampah, diperlukan pasokan daya listrik dari fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan kapasitas daya terpasang menyentuh 10,5 kWp.

Infrastruktur pembangkit ini mampu menyuplai daya sebesar 14.256 kWh per tahun yang bersumber dari energi surya.

Keberadaan sarana pembangkit tersebut tidak sekadar menekan pengeluaran biaya setrum hingga Rp21 juta tiap tahunnya, melainkan juga efektif memangkas emisi Gas Rumah Kaca sampai 13,7 ton CO2eq per tahun.

I Wayan menuturkan bahwa asistensi dari Pertamina secara tidak langsung ikut memicu peralihan kebiasaan warga dalam memilah limbah buangan rumah tangga, baik jenis organik, anorganik, ataupun sisa residu.

"Saat ini kesadaran untuk masyarakat memilih sampah itu sudah sangat tinggi berkat kerjasama kami dengan Pertamina, kami mengelola sampah untuk dikembalikan ke alam hingga kemudian bisa semakin bermanfaat lagi untuk alam," tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa untuk keperluan operasional pengairan area sawah, wilayah pedesaan ini juga ditopang oleh fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang berkapasitas daya sebesar 17,5 kWp.

Sarana pembangkit itu difungsikan untuk mengoperasikan alat pompa air tanah berbasis tenaga surya guna menyokong irigasi sawah ketika musim paceklik air di 7 area Subak, yakni Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, serta Lauh Batu.

Secara khusus, infrastruktur pembangkit irigasi sawah tersebut memproduksi daya sebesar 84.000 kWh per tahun dari energi matahari, menekan angka emisi Gas Rumah Kaca hingga 23,1 ton CO2eq per tahun, dan menghemat anggaran pengeluaran listrik mencapai Rp35 juta tiap tahun.

Berkat aktivitas bercocok tanam tersebut, kawasan ini berhasil memanen komoditas padi organik yang dapat mendongkrak produktivitas total hasil panen secara sangat terukur.

Sebelum menerapkan metode padi organik, kuantitas hasil panen warga hanya berada di kisaran 5 sampai 5,5 ton untuk setiap hektarenya.

Akan tetapi, sesudah melewati rangkaian program pendampingan oleh pihak Pertamina, kuantitas hasil panen melonjak drastis hingga menyentuh angka 8,7 ton per hektare.

Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, melempar apresiasi tinggi atas keberhasilan inisiatif yang menyumbang dampak bagus bagi kelestarian alam serta faedah finansial bagi warga setempat.

"Dari program DEB Keliki ini, menunjukkan komitmen Pertamina dalam memberikan dukungan kepada masyarakat melalui program-program yang dimiliki. Melihat keberhasilan DEB Keliki, saya dan jajaran Dewan Komisaris sangat senang, semoga program TSJL Perusahaan, bisa lebih memberikan dampak yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat," ujarnya.

Wilayah Desa Energi Berdikari Keliki kini bertransformasi menjadi sebuah ekosistem percontohan untuk roda penggerak ekonomi warga sekitar lewat aktivitas Eco Village serta sektor Agrikultur.

Inisiatif ini berhasil menjangkau sebanyak 1.200 Kepala Keluarga, menyerap 9 orang tenaga kerja, dan menjalin kemitraan erat dengan 15 pelaku UMKM pemuda desa setempat.

Hasil dari pemrosesan limbah sampah ini juga sanggup memproduksi komoditas organik yang bermutu tinggi, cairan jenis eco enzyme, hingga pupuk kompos organik.

Berkat pencapaian prestasi tersebut, banyak berdatangan kunjungan studi dari institusi perguruan tinggi maupun pelancong asing dari berbagai negara ke desa ini.

Paling tidak ada sekitar 6.000 pelancong yang berkunjung demi menyaksikan panorama area persawahan, mempelajari tata cara pemrosesan limbah, serta metode pertanian berbasis energi bersih, sembari menikmati hidangan makanan di warung saung warga yang ikut memutar roda ekonomi daerah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua