Kebiasaan yang Bikin Baterai Mobil Hybrid dan Listrik Cepat Rusak

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 08 Juni 2026
Kebiasaan yang Bikin Baterai Mobil Hybrid dan Listrik Cepat Rusak
Mobil Hybrid dan Listrik (FOTO: NET)

JAKARTA - Baterai menjadi komponen utama pada mobil hybrid maupun kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Selain berfungsi sebagai sumber tenaga, komponen ini juga menjadi salah satu bagian dengan biaya penggantian yang tidak murah.

Karena itu, pemilik kendaraan perlu menjaga kondisi baterai agar tetap optimal dan memiliki usia pakai yang panjang.

Namun, masih banyak pengguna yang tanpa sandar melakukan kebiasaan yang justru dapat mempercepat penurunan performa baterai.

Kepala Teknisi Domo Hybrid EV Yogig Pramono mengatakan, salah satu penyebab utama baterai mobil hybrid maupun EV cepat rusak adalah kurangnya perawatan.

"Kebiasaan yang bikin baterai mobil hybrid atau EV cepat rusak adalah mereka yang tidak pernah melakukan perawatan. Kebiasaan buruk itu yang jadinya memperpendek usia baterai," kata Yogig, saat ditemui di Jakarta Utara, belum lama ini.

Menurut Yogig Pramono, masih banyak pemilik kendaraan yang menganggap baterai tidak memerlukan pemeriksaan berkala selama mobil masih dapat digunakan dengan normal.

Padahal, pengecekan rutin diperlukan untuk mengetahui kondisi sel baterai, sistem pendingin, hingga memastikan seluruh komponen pendukung bekerja dengan baik.

Dengan perawatan yang tepat, potensi kerusakan dapat dideteksi lebih awal sebelum menimbulkan masalah yang lebih besar.

Selain minim perawatan, Yogig Pramono juga menyoroti kebiasaan sebagian pengguna yang kerap menguji performa mobil dengan melakukan akselerasi penuh.

"Sebenarnya kalau misal kami akselerasi terus, apalagi kalau misal dari berhenti, dari kecepatan 0 sampai ke 100, biasanya kan ada beberapa orang yang iseng ngecek, 'mobil ini bisa tembus di 100 itu berapa detik?'. Nah, itu voltasenya akan nge-drop terus," kata Yogig.

Menurut Yogig Pramono, saat mobil berakselerasi penuh, baterai harus mengeluarkan daya yang besar untuk memenuhi kebutuhan motor listrik.

Akibatnya, tegangan atau voltase baterai akan turun sementara.

"Nah, kalau misal nge-drop terus, anggap saja, dari 60 Volt itu kalau misal akselerasi kurang lebih 10 menit gas mentok terus itu biasanya dia akan turun di 55 atau 50 Volt. Tapi kalau misal kami sudah lepas gas, baterai akan balik lagi voltasenya, biasanya ke 60 lagi atau di 58 Volt," kata Yogig.

Yogig Pramono menjelaskan, kondisi tersebut sebenarnya masih normal.

Sebab, voltase baterai akan kembali stabil setelah beban berkurang dan pengemudi tidak lagi menginjak pedal gas secara penuh.

"Sebenarnya voltase turun itu pas kami lagi akselerasi, kan butuh ampere atau butuh daya yang besar. Makanya voltase akan nge-drop. Tapi kalau misal sudah stabil lagi, baterai akan normal lagi. Voltasenya akan naik lagi," kata Yogig.

Meski demikian, kondisi berbeda bisa terjadi jika pengemudi terus memaksa akselerasi saat kapasitas baterai sudah rendah.

Menurut Yogig Pramono, ketika baterai tersisa sekitar 20 persen lalu terus dipaksa mengeluarkan daya besar, ada risiko salah satu sel baterai mencapai batas minimum.

Jika itu terjadi, sistem Battery Management System (BMS) akan memutus aliran listrik untuk melindungi baterai dari kerusakan.

"Yang bahaya kalau misal akselerasi terus, baterai di mobil anggap saja di 20 persen, kami akselerasi terus, takutnya nanti ada salah satu sel atau salah satu baterai yang sudah dimasimal dan ini akan memutus si BMS (Battery Management System)-nya. BMS akan memutus si baterai, jadi mobil akan mati total. Sebenarnya bahayanya di situ," kata Yogig.

Meski begitu, Yogig Pramono menegaskan bahwa melakukan akselerasi penuh sesekali dalam waktu singkat tidak akan memberikan dampak berarti terhadap kesehatan baterai.

"Tapi kalau misal kami akselerasi cuma beberapa detik aja sih sebenarnya tidak terlalu pengaru," kata Yogig.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua