Impor Kaltim April 2026 Melonjak 32,94 Persen, Migas Mendominasi

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 08 Juni 2026
Impor Kaltim April 2026 Melonjak 32,94 Persen, Migas Mendominasi
Impor migas masih mendominasi dengan kontribusi 87,86 persen (FOTO: NET)

SAMARINDA - Kegiatan impor Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami kenaikan yang sangat signifikan pada April 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat nilai impornya sukses menembus angka 1,84 miliar dolar AS atau melonjak sebesar 32,94 persen jika disandingkan dengan perolehan Maret 2026 yang berada di angka 631,57 juta dolar AS.

Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, memaparkan bahwa lonjakan pada aktivitas impor ini utamanya disokong oleh kenaikan impor di sektor minyak dan gas (migas) yang sejauh ini masih menguasai struktur impor di wilayah tersebut.

“Nilai impor migas pada April 2026 mencapai 750,74 juta dolar AS atau meningkat 33,82 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara impor nonmigas tercatat sebesar 89 juta dolar AS atau naik 25,94 persen,” ujarnya.

Menurut Mas’ud, tingginya angka impor pada sektor migas mencerminkan seberapa masifnya keperluan energi serta bahan bakar demi menyokong aktivitas industri sekaligus sektor transportasi di Kaltim.

Di samping itu, berjalannya beraneka proyek strategis saat ini turut memicu tingginya permintaan terhadap produk energi maupun komoditas penunjang lainnya.

Pada kategori nonmigas, pertumbuhan yang paling kentara tampak pada kelompok komoditas pupuk yang mengalami penambahan sebesar 12,09 juta dolar AS.

Kenaikan tersebut memperlihatkan adanya keperluan yang jauh lebih besar dari sektor perkebunan serta pertanian yang hingga kini masih menjadi salah satu pilar penopang ekonomi wilayah.

Di pihak lain, impor untuk komoditas barang dari besi dan baja justru mengalami penurunan yang paling dalam, yaitu merosot sebesar 8 juta dolar AS atau anjlok 63,75 persen jika disandingkan dengan bulan sebelumnya.

Situasi ini diperkirakan terjadi karena imbas berkurangnya keperluan material tertentu setelah sejumlah proyek konstruksi mulai beralih ke tahapan yang berbeda atau memang telah merampungkan proses pengadaan pada periode yang lalu.

Mas’ud menyampaikan bahwa dinamika impor Kaltim ini juga tidak lepas dari pergerakan aktivitas pembangunan yang terus merangkak naik.

Keperluan terhadap bahan baku industri, barang modal, hingga barang konsumsi memperlihatkan tren yang positif sepanjang April 2026.

Catatan dari data BPS menunjukkan bahwa impor untuk barang konsumsi mengalami kenaikan sebesar 60 persen ketimbang Maret 2026.

Sementara itu, sektor impor bahan baku serta barang penolong tumbuh sebesar 33,50 persen, sedangkan untuk impor barang modal terkerek naik sebesar 14,55 persen.

“Peningkatan pada kelompok bahan baku dan barang modal mengindikasikan aktivitas produksi dan investasi masih berjalan cukup kuat. Ini biasanya berkaitan dengan kebutuhan industri maupun pembangunan berbagai proyek di daerah,” jelasnya.

Menilik dari negara asal komoditas, Tiongkok masih kokoh menjadi pemasok paling besar untuk impor nonmigas Kalimantan Timur sepanjang periode Januari–April 2026 dengan perolehan nilai 65,71 juta dolar AS atau memegang kontribusi sebesar 22,03 persen.

Peringkat selanjutnya dihuni oleh Malaysia dengan nilai sebesar 42,17 juta dolar AS atau 14,14 persen, lalu diikuti oleh Amerika Serikat yang menyentuh angka 31,61 juta dolar AS atau 10,60 persen.

Walaupun aktivitas impor mengalami lonjakan yang terhitung tajam, neraca perdagangan Kaltim dipastikan tetap menorehkan performa yang positif.

Pada April 2026, neraca perdagangan Kaltim sukses mencatatkan surplus yang menyentuh angka 934,41 juta dolar AS.

Capaian surplus tersebut utamanya didorong oleh sektor nonmigas yang menorehkan kelebihan perdagangan hingga sebesar 1,58 miliar dolar AS.

Akan tetapi, untuk sektor migas terpantau masih menderita defisit sebesar 649,74 juta dolar AS lantaran tingginya keperluan terhadap impor energi.

Mas’ud memberikan penilaian bahwa situasi ini mengindikasikan roda perekonomian Kaltim masih berjalan dengan aktif.

Tingginya angka impor tidak melulu menjadi sebuah indikator yang negatif, terlebih jika aktivitas tersebut didominasi oleh bahan baku, barang modal, serta keperluan produksi yang dipastikan mampu menyokong pertumbuhan ekonomi sekaligus aktivitas industri di wilayah tersebut.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua