Bamsoet Dorong Kerja Sama Migas Indonesia-Rusia demi Energi Nasional

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 10 Juni 2026
Bamsoet Dorong Kerja Sama Migas Indonesia-Rusia demi Energi Nasional
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (FOTO: NET)

JAKARTA – Anggota DPR RI yang juga merupakan Ketua MPR RI ke-15 serta Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mendorong peningkatan kolaborasi strategis pada sektor minyak dan gas bumi (migas) antara Indonesia dengan Rusia sebagai upaya memperkuat ketahanan energi domestik di tengah situasi geopolitik global yang dinamis.

Menurutnya, hubungan bilateral kedua negara yang kian erat belakangan ini mesti dimanfaatkan demi membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan di sektor energi.

Kerja sama tersebut meliputi pasokan minyak mentah, pengembangan kilang, pembangunan tempat penyimpanan energi, investasi hulu-hilir migas, hingga transfer teknologi serta pengembangan sumber daya manusia.

Pernyataan ini diutarakan saat menerima Ketua Business Council Russia–Indonesia, Mikhail Kuritsyn, pada Senin (8/6/2026).

Dalam diskusi tersebut, dia menegaskan bahwa penguatan kerja sama energi bersama Rusia menjadi langkah krusial dalam mengamankan pasokan energi domestik sekaligus menekan biaya energi di tengah ketidakpastian geopolitik dunia yang memicu fluktuasi harga minyak dan gas.

“Kerja sama migas Indonesia dan Rusia harus ditempatkan sebagai kemitraan strategis yang saling menguntungkan. Indonesia membutuhkan investasi, teknologi, dan pasokan energi yang berkelanjutan, sementara Rusia memiliki pengalaman panjang sebagai salah satu produsen energi terbesar dunia. Kerja sama ini akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri,” ujar Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 itu memaparkan bahwa kebutuhan energi di dalam negeri terus melonjak sejalan dengan perkembangan industri, pembangunan infrastruktur, serta ekspansi ekonomi nasional.

Sementara itu, bersandarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia masih mengalami defisit minyak dalam jumlah besar sehingga impor energi tetap menjadi kebutuhan strategis nasional.

Di pihak lain, Rusia berstatus sebagai salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia yang berpengalaman panjang dalam tata kelola energi, mulai dari tahapan eksplorasi, produksi, pengolahan, hingga proses distribusi.

Dia menilai Indonesia mempunyai kesempatan besar memanfaatkan kolaborasi ini untuk mempercepat modernisasi sektor energi domestik.

Selama ini, pemenuhan sebagian kebutuhan minyak mentah serta Liquefied Petroleum Gas (LPG) domestik di Indonesia masih bertumpu pada jalur impor.

Menurutnya, lewat skema kerja sama antar-pemerintah (G-to-G) ataupun antar-bisnis (B-to-B), Indonesia bisa memperoleh akses ke sumber energi yang lebih bervariasi sekaligus meminimalkan risiko ketergantungan pada pasar atau kawasan tertentu.

“Diversifikasi sumber energi merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi, Indonesia harus memiliki banyak pilihan mitra strategis agar pasokan energi nasional tetap aman dan stabil. Rusia dapat menjadi salah satu pilar penting dalam strategi diversifikasi tersebut,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut turut menggarisbawahi bahwa kemitraan migas modern tidak lagi sebatas pada transaksi jual-beli minyak mentah semata.

Negara-negara yang sukses membangun ketahanan energi umumnya memperluas kemitraan mereka hingga menyentuh aspek investasi, riset dan pengembangan, transfer teknologi, pembangunan infrastruktur energi, serta peningkatan mutu sumber daya manusia.

Oleh karena itu, Indonesia harus mendorong kolaborasi yang lebih mendalam dengan perusahaan energi asal Rusia yang telah berpengalaman global dalam bermacam proyek energi strategis.

“Indonesia harus mengambil manfaat sebesar-besarnya dari setiap kerja sama internasional. Yang kami kejar bukan sekadar pasokan energi, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM nasional, serta investasi yang dapat memperkuat daya saing industri energi Indonesia dalam jangka panjang,” tegasnya.

Dalam pembahasan kolaborasi tersebut, mencuat pula peluang realisasi kesepakatan impor minyak mentah dari Rusia yang mencapai 150 juta barel.

Dari total volume tersebut, sekitar 100 juta barel ditawarkan dengan harga khusus yang kompetitif.

Bukan cuma pasokan minyak mentah, celah kerja sama ini juga menyasar pengadaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) demi menekan defisit energi nasional sekaligus memperlebar diversifikasi sumber pasokan energi Indonesia.

Dia berharap penguatan kerja sama strategis ini dapat menjadi solusi tepat untuk menjaga keamanan pasokan energi dalam negeri, mendongkrak investasi sektor energi, memperkokoh kapasitas industri domestik, serta menyokong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di masa depan.

Melalui tantangan geopolitik global yang terus dinamis, langkah kemitraan energi yang berpijak pada kepentingan nasional, transfer teknologi, serta penguatan investasi dianggap sebagai pijakan penting demi membangun ketahanan energi Indonesia yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua