Lampung Jadi Proyek Percontohan Hilirisasi Bioetanol Nasional

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 11 Juni 2026
Lampung Jadi Proyek Percontohan Hilirisasi Bioetanol Nasional
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu di Jepang (FOTO: NET)

LAMPUNG SELATAN – Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu meninjau kawasan PTPN I Regional 7 yang diproyeksikan untuk penanaman sorgum di Kebun Rejosari, Natar, Lampung Selatan pada Selasa (9/6/26).

Langkah peninjauan oleh Wamen yang menjabat selaku Wakil Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini didampingi oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal serta Dirut PTPN I Teddy Yunirman Danas, di mana beliau menegaskan kesiapan sumber daya PTPN I dalam menyokong agenda presiden terkait hilirisasi ketahanan energi nasional.

"Ketahanan pangan dan ketahanan energi adalah program Bapak Presiden Prabowo yang butuh percepatan karena urgensinya sangat tinggi. Pilihannya hanya dari bio energi yang diolah dari tumbuhan. PTPN I sebagai BUMN Perkebunan memiliki resources yang paling siap untuk menjawab tuntutan kecepatan itu. Itulah kami meng-hire PTPN I dalam program ini," ujarnya kepada awak media di area peninjauan.

Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas melalui sambutan pendeknya menegaskan komitmen penuh untuk menyukseskan regulasi dari pimpinan nasional.

Dirut mengungkapkan bahwa PTPN I mempunyai aset melimpah yang siap dioptimalkan demi menyukseskan rupa-rupa program hilirisasi.

"Lahan ini berada di Afdeling 1 Kebun Rejosari yang sudah di-land clrearing seluas 20 hektare dan setahap lagi bisa kami tanam sorgum. Secara keseluruhan Kebun ini ada 4.985 hektare, terdiri dari tanaman sawit. Sebagian dapat kami tanam sorgum atau singkong untuk program hilirisasi ketahanan energi. HGU kebun ini milik PTPN I, tetapi pengelolaannya, seiring kebijakan klusterisasi komoditas di Holding Perkebunan Nusantara, diserahkan kepada PTPN IV atau Palm.Co dengan model KSO," tutur Teddy.

Mengenai prospek energi terbarukan yang tengah digenjot oleh jajaran pemerintah, Todotua Pasaribu memaparkan bahwa Lampung ditunjuk menjadi percontohan proyek hilirisasi demi mewujudkan ketahanan energi nasional.

Wamen turut membeberkan data potensi yang menunjukkan bahwa Lampung dibekali ketersediaan bahan baku energi baru dan terbarukan yang sangat masif.

Komoditas tersebut di antaranya meliputi singkong, molases tebu, kelapa sawit, potensi tanaman sorgum, hingga bahan baku pendukung lainnya.

“Saya waktu ke Jepang, dapat laporan bahwa produsen otomotif terbesar, yakni Toyota melakukan riset tentang bio energi selama tiga tahun di Lampung. Dan mereka berhasil mendapatkan formulasi terbaik sehingga bioetanol yang dihasilkan kompatible dengan mesin yang diciptakan. Nah, ini titik awal optimistis saya bahwa Lampung akan menjadi pioner produksi bioetanol nasional dengan produksi 240 ribu kilo liter atau setara 10% target nasional,” paparnya.

Sebelum bertolak menuju lahan calon demplot sorgum di Rejosari, Wamen bersama jajaran terkait lebih dulu memantau area yang direncanakan sebagai lokasi pembangunan pabrik pengolahan bioetanol di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran.

Di wilayah tersebut, menurut penuturannya, bakal dibangun pabrik berkapasitas 2x60 ribu kilo liter per tahun dengan pasokan bahan baku dari beragam pusat produksi.

“Tadi baru kami lihat lokasi pembangunan plant (lahan budidaya dan pabrik) bioetanol di Tegineneng berkapasitas 2x60 ribu. Saya berharap di sini (lahan PTPN I) juga didirikan satu unit lagi dengan kapasitas yang sama sehingga kami punya dua unit plant untuk menyuplai optimistis kami dengan program E-10 yang segera kami berlakukan,” ucapnya.

Ketika disinggung mengenai pemanfaatan lahan PTPN I bagi tanaman yang berbeda dari sektor utama komoditas PTPN, Todotua menjelaskan hal itu tidak memicu kendala mendasar.

Wamen menerangkan bahwa aktivitas bisnis tanaman industri yang dikelola PTPN I bakal tetap berjalan selaras dengan rencana pengembangan awal, sementara pemanfaatan porsi lahan untuk komoditas bahan baku bioenergi akan disesuaikan menurut tingkat kebutuhan.

“Core business PTPN tetap jalan seperti proyeksinya. Hilirisasi di sektor bioenergi ini hanya memanfaatkan sementara lahan yang idle. Tetapi, jika setelah berjalan hitung-hitungan komersialnya positif, tidak ada salahnya diversifikasi komoditas. Tentu, pertimbangannya bukan hanya profit, tetapi juga tentang kepentingan nasional,” imbuhnya.

Di sisi lain, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang mendampingi Wamen sekaligus memimpin rapat di Bandara Raden Inten II merespons lewat antusiasme tinggi atas cetak biru rencana Kementerian Investasi dan Hilirisasi bersama Kementerian Pertanian selaku pemegang mandat hilirisasi ketahanan energi.

Pria yang akrab disapa Iyai Mirza ini menegaskan bahwa pihak daerah siap memfasilitasi seluruh proposal hilirisasi bentukan Pemerintah Pusat yang dialokasikan di Lampung.

Gubernur menaruh harapan besar agar beberapa rancangan proyek strategis nasional ini dapat segera berjalan pada tahun ini dengan indikator progres yang terukur sekaligus berkelanjutan.

“Kami sangat siap dengan mandat Pemerintah Pusat dalam program hilirisasi sektor pangan dan energi ini. Seluruh desain rencana yang dibuat Pusat semuanya ada di Lampung. Terima kasih sekali kepada PTPN I dengan dukungan teknisnya yang sangat siap dengan semua asetnya. Ini ikhtiar kami bersama untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua