China Operasikan Data Center Bawah Air Bertenaga Angin Pertama Dunia

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 11 Juni 2026
China Operasikan Data Center Bawah Air Bertenaga Angin Pertama Dunia
China is submerging data centers into the ocean to keep them cool (FOTO: NET)

SHANGHAI - Tiongkok telah memulai operasional pusat data bawah laut pertama di dunia yang memanfaatkan energi angin di wilayah lepas pantai Shanghai.

Fasilitas dengan daya mencapai 24 megawatt (MW) ini mulai diperkenalkan ke publik pada Mei 2026.

Pembangunan pusat data bernama The Shanghai Lingang ini terealisasi berkat kerja sama antara HiCloud Technology dan badan usaha milik negara China Communication Construction.

Nilai investasi yang dikucurkan untuk mendanai proyek ini menyentuh angka 1,6 miliar yuan.

Langkah pengadaan infrastruktur ramah lingkungan tersebut selaras dengan peta jalan aksi AI Tiongkok yang diterbitkan tahun lalu guna mendorong percepatan pembangunan pusat data, sekaligus merealisasikan target penambahan pasokan energi bersih bagi infrastruktur kecerdasan buatan secara masif pada tahun 2030.

Pusat data tersebut diposisikan di kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut dengan jarak lebih dari 10 kilometer dari tepi pantai Shanghai.

Pihak otoritas Tiongkok mengklaim bahwa fasilitas di bawah air ini dapat memotong penggunaan daya hingga lebih dari seperlima bagian jika disandingkan dengan pusat data darat konvensional.

Efisiensi energi ini dapat tercapai berkat pemanfaatan suhu dingin alami dari air laut secara langsung untuk sistem pendinginan server.

Sebab pada pusat data di daratan, sekitar 25 sampai 40 persen dari total daya listrik yang ada habis terserap hanya untuk mengalirkan air dingin agar perangkat server tidak mengalami panas berlebih.

Bukan hanya menekan konsumsi listrik, peletakan fasilitas di dasar laut ini juga mengurangi pemakaian air tawar dalam jumlah yang sangat besar.

Selama ini, problem utama dari pusat data konvensional yang menyokong operasional teknologi kecerdasan buatan adalah tingginya volume air yang dihabiskan sebagai media pendingin.

Berdasarkan data dari Institute for Water, Environment and Health besutan Universitas PBB (UNU), jejak air dari pusat data global diperkirakan bakal menyentuh 9,3 triliun liter menjelang tahun 2030.

Total volume tersebut setara dengan pasokan air bersih domestik selama satu tahun untuk 1,3 miliar warga di wilayah sub-Sahara Afrika.

Seluruh sistem operasional pada pusat data di Lingang ini disuplai oleh sumber energi angin lepas pantai.

Metode ini membedakannya dari proyek komersial bawah laut perdana milik HiCloud di Pulau Hainan pada tahun 2023 yang kala itu belum terkoneksi dengan energi angin.

Tiongkok sejatinya bukan pihak pertama yang menguji coba penempatan pusat data di dalam air.

Perusahaan Microsoft sudah lebih dahulu mengawali proyek percontohan serupa di kawasan perairan Orkney, Skotlandia, pada tahun 2018 silam.

Walau dinilai memiliki prospek cerah, program eksperimen milik Microsoft tersebut saat ini terpantau mandek.

"Microsoft lebih awal dalam membuktikan konsepnya, sementara China melangkah lebih jauh ke penyebaran komersial karena mampu menyatukan permintaan pasar, kemampuan industri, teknik kelautan, dan dukungan kebijakan dengan lebih cepat," kata Hanjiang Dong, dosen Hong Kong Polytechnic University, melansir The Guardian, Rabu (10/6).

Namun di sudut lain, penempatan pusat data di dalam laut tetap menyimpan potensi risiko bagi ekosistem, contohnya seperti gangguan pada sedimen laut serta kenaikan temperatur air di sekitar area fasilitas.

Meski demikian, sejumlah ahli berpendapat bahwa efek negatif tersebut masih berada dalam koridor aman serta tetap bisa dimitigasi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua