Tiongkok Targetkan 50 Persen Energi Nonfosil, Batu Bara Masih Prioritas

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 30 Juni 2026
Tiongkok Targetkan 50 Persen Energi Nonfosil, Batu Bara Masih Prioritas
Perusahaan asal Tiongkok menggelar pameran teknologi energi di Jakarta, pada 10-12 Mei (FOTO: NET)

BEKASI - Tiongkok berniat untuk terus menjaga kedudukannya sebagai penggerak dunia dalam pembangunan energi terbarukan walau masih memakai batu bara selaku sumber tenaga.

Aturan tersebut tertuang di dalam program energi lima tahunan terkini yang meletakkan keamanan energi menjadi prioritas paling utama.

Dikutip dari Sumbernya, Beijing mematok target 50% hasil listrik bersumber dari tenaga nonfosil pada tahun 2030, naik dari target sebelumnya yaitu 42,3% pada tahun 2025.

Sasaran tersebut bakal diraih dengan menambah daya tampung pembangkit tenaga listrik surya serta angin sampai melampaui 2.700 gigawatt (GW) atau lebih dari setengah keseluruhan kapasitas pembangkit tenaga listrik nasional.

Akan tetapi, pada saat bersamaan, Tiongkok tetap menjaga hasil dan pemakaian batu bara di kisaran angka tertinggi sebagai salah satu cara memperkuat keamanan energi sekaligus memangkas ketergantungan pada pasokan minyak mentah serta gas alam cair (LNG).

Hasil batu bara Tiongkok selama lima bulan awal tahun 2026 menyentuh angka 1,98 miliar ton.

Jumlah itu mengalami penyusutan sedikit sebesar 0,3% jika dibandingkan dengan durasi yang sama di tahun sebelumnya.

Penyusutan itu utamanya disebabkan oleh meningkatnya pengecekan keamanan sesudah musibah tambang di Provinsi Shanxi pada Mei 2026 yang merenggut nyawa 82 orang.

Walau begitu, hasil batu bara diprediksi bakal naik kembali pada separuh tahun kedua ini sehingga seluruh hasil sepanjang 2026 berpeluang mendekati rekor 4,823 miliar ton yang pernah diraih pada tahun 2025.

Sumbernya menilai fungsi batu bara sebagai pembangkit tenaga listrik mungkin bakal berkurang beriringan dengan bertambahnya kapasitas energi terbarukan.

Namun, kebutuhan batu bara justru diprediksi naik sebagai bahan baku industri kimia serta bahan bakar sintetis.

Pemakaian batu bara untuk industri kimia naik tajam, dari sekitar 20 juta ton di tahun 2005 menjadi sekitar 320 juta hingga 380 juta ton pada tahun 2026.

Batu bara lazimnya dimanfaatkan untuk memproduksi metanol, amonia, olefin, serta bermacam produk kimia yang lain.

Di lain sisi, impor minyak mentah Tiongkok diprediksi mengalami penyusutan tahun ini sesudah sempat menyentuh rekor 11,6 juta barel per hari pada tahun 2025.

Pada Mei 2026, impor minyak susut menjadi 7,79 juta barel per hari, titik terendah selama delapan tahun.

Penyusutan itu dipicu oleh meroketnya harga minyak sesudah perselisihan antara Amerika Serikat, Israel, serta Iran mengganggu alur pengiriman energi melalui Selat Hormuz, rute yang sebelumnya dilewati sekitar 20% perdagangan minyak mentah serta LNG dunia.

Di samping itu, kilang-kilang di Tiongkok memilih menggunakan cadangan minyak yang sudah tersedia dibanding membeli minyak dengan harga mahal.

Sumbernya menilai apabila pola elektrifikasi kendaraan terus berjalan, impor minyak mentah Tiongkok kemungkinan sudah menyentuh titik puncaknya.

Situasi tersebut berpeluang menaikkan pemakaian batu bara sebagai bahan baku industri petrokimia untuk memproduksi plastik serta bermacam produk manufaktur yang lain.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua