Jejak Karbon Pusat Data Diprediksi Melebihi Estimasi Awal

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 02 Juli 2026
Jejak Karbon Pusat Data Diprediksi Melebihi Estimasi Awal
Ilustrasi Data Center (FOTO: NET)

JAKARTA - Penelitian terbaru memperlihatkan pusat data mempunyai jejak karbon yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dugaan semula.

Peristiwa itu terjadi dikarenakan cepatnya konstruksi pusat data yang didorong oleh tren kecerdasan buatan (AI).

Pusat data ialah area bangunan lebar yang sangat boros energi, yang digunakan guna menampung infrastruktur IT vital seperti komputer server.

Sarana ini didirikan secara mendunia lantaran aplikasi AI membutuhkan daya komputasi yang semakin raksasa.

Mengutip dari Sumbernya, Selasa (30/6/2026), fenomena inilah yang mengakibatkan kenaikan emisi gas rumah kaca.

Studi dari Allianz Trade mengestimasi bahwa pusat data di seluruh dunia sudah menghasilkan 286 juta ton karbon dioksida (CO2) pada tahun 2025.

Menurut Allianz Trade, kuantitas tersebut 57 persen lebih tinggi dibandingkan prakiraan Badan Energi Internasional (IEA).

Laporan tersebut juga menerangkan bahwa saat ini teknologi AI telah mengonsumsi sekitar 15 persen hingga 20 persen dari keseluruhan pemakaian listrik di pusat data.

Persentase ini diestimasikan dapat melonjak hingga 40 persen pada tahun 2030.

"Pusat data kini bukan lagi sekadar faktor kecil, melainkan pendorong utama yang mengubah struktur kebutuhan listrik di banyak wilayah," ujar Patrick Hoffmann, ekonom iklim senior di Allianz.

Dokumen tersebut menerangkan bahwa tanpa tindakan nyata untuk memurnikan jaringan listrik dari karbon, emisi dari pusat data bakal naik lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030.

Situasi ini dapat mengakibatkan kerugian iklim tahunan sejumlah 154 miliar dolar AS, melonjak drastis dari nominal saat ini yang mencapai 68 miliar dolar AS.

Khusus untuk kerugian iklim karena penggunaan AI saja, nilainya diperkirakan dapat menembus 50 miliar dolar AS pada tahun 2030.

Selain masalah emisi, pusat data pun sangat membebani sumber daya alam.

Laporan itu memaparkan bahwa pada tahun 2030, sarana ini bisa menyerap 1,3 triliun hingga 1,8 triliun liter air setiap tahun, sebuah volume yang sangat masif.

Di samping itu, dengan kapasitas komputer yang setara, total emisi yang diciptakan bisa berbeda sangat jauh, bergantung pada asal sumber listriknya.

Sebagai ilustrasi, di India emisi listriknya sangat besar, yakni sampai 600 gram CO2 per kilowatt-jam (kWh).

Sementara di Norwegia atau Swedia, emisinya kurang dari 30 gram CO2 per kWh, sebab pembangkit listrik di sana mayoritas telah memakai energi bersih yang bebas karbon.

Menurut Allianz Trade, hampir 70 persen emisi pusat data di seluruh dunia saat ini menumpuk di Amerika Serikat dan China, yang menjadi penggerak teknologi AI global sekarang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua