Neraca Perdagangan RI Defisit, Lonjakan Harga Migas Jadi Biang Kerok
JAKARTA - Rentetan catatan surplus neraca perdagangan Indonesia selama enam tahun berturut-turut akhirnya harus berakhir setelah membukukan defisit sejumlah US$ 1,6 miliar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pelebaran angka defisit tersebut dipicu oleh meningkatnya ongkos masuk minyak dan gas (migas) di tengah kenaikan harga minyak global.
"Dugaan saya karena itu, karena kami impor migas harganya lagi naik kan, minyak, minyak bumi, saya pikir disitu yang membuatnya naik," kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (1/7/2026).
Purbaya memandang situasi tersebut masih dalam batasan wajar apabila menilik akumulasi perdagangan selama tahun berjalan.
Purbaya menganggap kondisi ini bakal terjaga dalam beberapa kurun waktu mendatang.
"Kalau kami lihat year-to-date Januari sampai Mei, migasnya memang negatif US$ 12 miliar, nonmigas positif US$ 16, totalnya masih positif US$ 4 miliar. Jadi kenaikannya betul saya bilang tadi karena defisit migas membesar akibat harga minyak dunia yang tinggi. Jadi harusnya nanti akan terkendali ke depan," sebut Purbaya.
Merujuk pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Mei 2026 total nilai ekspor berada di angka US$ 23,20 miliar, sementara angka impor menyentuh US$ 24,81 miliar.
Pertumbuhan angka impor yang lebih pesat dibandingkan ekspor menyebabkan neraca perdagangan menjadi defisit.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa dari Sumbernya menyatakan bahwa defisit neraca perdagangan pada bulan Mei utamanya bersumber dari komoditas migas.
"Pada Mei 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar. Defisit pada Mei 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas sebesar minus US$ 3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan dari minyak mentah," kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).