Studi Baru: Kemampuan Hutan Simpan Karbon Tak Setinggi Dugaan

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 17 Juni 2026
Studi Baru: Kemampuan Hutan Simpan Karbon Tak Setinggi Dugaan
Potret Hamparan Pohon di Hutan (FOTO: NET)

JAKARTA - Kawasan hutan selama ini dianggap menjadi benteng pertahanan utama bagi bumi guna melawan krisis iklim. Meski demikian, efisiensi hutan untuk menyerap karbon rupanya tidak cuma dihitung dari jumlah gas CO2 yang diserap pohon, tetapi juga dari kapasitas karbon yang didepositokan ke dalam biomassa kayu.

Karbon yang mendekam di dalam struktur kayu mampu bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun, berbeda dengan karbon pada daun, akar, ataupun kebutuhan metabolisme lain yang tersimpan dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat.

Hingga saat ini, para pakar iklim memproyeksikan bahwa melonjaknya konsentrasi CO2 dari penggunaan bahan bakar fosil bakal memicu ekosistem daratan untuk terus mengikat karbon pada abad ke-21.

Akan tetapi, sebagian besar model proyeksi saat ini masih menjadikan tingkat fotosintesis sebagai indikator utama untuk mengukur daya serap, alih-alih memakai data pertumbuhan biomassa kayu yang riil.

Mukund Palat Rao, seorang ahli siklus karbon asal Lamont-Doherty Earth Observatory Universitas Columbia yang menjadi penulis utama riset ini, memaparkan bahwa anggapan adanya keterkaitan erat antara fotosintesis dan pertumbuhan tidak selamanya tepat.

Menurutnya, proses fotosintesis yang maksimal tidak menjadi jaminan bahwa pohon bakal tumbuh lebih pesat atau mampu mengunci lebih banyak karbon untuk masa yang akan datang.

“Sebagian besar model saat ini mengasumsikan fotosintesis terkait dengan pertumbuhan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hubungan ini tidak selalu ada,” ujar Rao.

Rekaman data di bagian timur Amerika Serikat memperlihatkan sekitar 36% karbon yang diikat pohon berlangsung setelah masa pertumbuhan menyusut di penghujung musim panas, sedangkan di wilayah California menyentuh angka 26%.

Hasil pengamatan di empat titik riset mengindikasikan bahwa pembentukan kayu berjalan paling maksimal ketika cuaca sedang sejuk dan basah. Ironisnya, situasi ideal tersebut kini semakin sulit didapati lantaran pemanasan global memicu lonjakan suhu serta kemarau panjang.

Rao memaparkan bahwa ketika kondisi cuaca berubah gersang dan panas, pertumbuhan pohon akan mandek, walau proses fotosintesis tetap berjalan dengan ritme yang melambat. Dampaknya, karbon yang diserap malah dialirkan untuk keperluan fisiologis lainnya, bukan dirubah menjadi bagian kayu.

Kelompok peneliti tersebut kini tengah mendalami lebih jauh apakah ketidakcocokan antara fotosintesis dan pembentukan kayu ini juga melanda jenis pohon serta kawasan lainnya. Hasil pengamatan awal mempertegas bahwa kapasitas penyimpanan karbon hutan sangat bertumpu pada cara pohon menyalurkan karbon itu sendiri.

“Jika perubahan iklim terus memperburuk kekeringan dan suhu ekstrem, kapasitas penyimpanan karbon hutan dapat menurun. Ini berarti model iklim saat ini berisiko melebih-lebihkan peran hutan dalam menyerap gas rumah kaca dan memperlambat pemanasan global,” tutup para penulis.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua