JAKARTA - Peralihan sumber daya energi saat ini tidak bisa lagi dianggap sebagai beban finansial yang memberatkan sektor ekonomi.
Menurut staf Mobilitas Berkelanjutan, Lingkungan Bersih, dan Bangunan IESR, Reananda Hidayat, teknologi energi terbarukan saat ini telah menjadi opsi paling terjangkau.
“Banyak yang masih berpikir bahwa energi terbarukan terlalu mahal dan tidak kompetitif dibandingkan energi fosil. Padahal, dalam satu dekade terakhir, biaya pembangkitan listrik dari energi surya dan angin turun sangat signifikan,” kata Reananda, dalam sebuah keterangan tertulis.
Poin tersebut ia sampaikan saat menghadiri seminar Indonesia Chemical Engineering Challenge (IChEC) 2026 yang berlangsung pada Minggu (15/2/2026).
Merujuk pada data IRENA, pembangkit listrik tenaga angin darat tercatat sebagai sumber listrik baru termurah di dunia dengan biaya sekitar USD0,034 per kWh.
Selanjutnya, surya fotovoltaik menelan biaya sebesar USD0,043 per kWh dan tenaga air sebesar USD0,057 per kWh, sementara PLTU berada pada rentang USD0,04-0,06 per kWh.
Transformasi energi saat ini bukan lagi sekadar idealisme lingkungan, melainkan sebuah langkah ekonomi yang rasional dan didukung data.
Reananda menambahkan bahwa seluruh pemangku kepentingan perlu mengubah perspektif, serupa dengan langkah Inggris dalam menyetop pembangkit batu bara dan memperluas energi terbarukan.
“Pada awalnya, sistem listrik lebih banyak dirancang berdasarkan biaya pembangkitan jangka pendek yang terendah, sehingga pembangkit batu bara dan gas tetap dipertahankan karena infrastrukturnya sudah tersedia,” ujar Rean.
Penerapan pendekatan optimasi multi-objektif membuktikan bahwa energi surya dan angin secara sistemik lebih efisien untuk jangka panjang.
Ketika variabel harga karbon serta ketidakpastian harga bahan bakar dihitung, penggunaan batu bara tidak lagi menarik hingga porsi listrik dari batu bara di Inggris hampir mencapai nol.
“Keputusan tersebut bukan semata dorongan lingkungan, tetapi hasil pemodelan terpadu yang menyeimbangkan efisiensi ekonomi, pengurangan emisi, dan keandalan sistem,” ujarnya.
Reananda menilai pelajaran krusial bagi Indonesia adalah konsistensi kebijakan layaknya yang diterapkan Tiongkok dalam industri manufaktur surya.
Potensi Indonesia dengan kekayaan cadangan nikel tidak hanya terbatas sebagai eksportir bahan mentah, tetapi melalui hilirisasi dan produksi baterai.
Meskipun demikian, transisi ini wajib dikelola dengan pendekatan sosial agar para pekerja dan komunitas lokal tidak terpinggirkan.
“Pengalaman Eropa dalam memensiunkan tambang batu bara menunjukkan bahwa tanpa program pelatihan ulang dan diversifikasi ekonomi daerah, pekerja dan komunitas lokal berisiko tertinggal. Pendekatan “just transition” menjadi syarat penting agar transformasi industri tetap stabil secara politik dan sosial,” ucap Rean.