Kamis, 30 April 2026

BMKG Peringatkan Risiko Kekeringan Karhutla Meningkat Dampak El Nino Tahun 2026

BMKG Peringatkan Risiko Kekeringan Karhutla Meningkat Dampak El Nino Tahun 2026
BMKG Peringatkan Risiko Kekeringan Karhutla Meningkat Dampak El Nino Tahun 2026

JAKARTA - Potensi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan mulai menjadi perhatian serius seiring proyeksi kondisi iklim yang cenderung lebih kering pada 2026. 

Situasi ini bukan sekadar siklus tahunan biasa, melainkan dipengaruhi oleh fenomena global yang dapat memperparah kondisi musim kemarau di Indonesia.

Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika terus mengingatkan berbagai pihak untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Hal ini penting mengingat dampak yang ditimbulkan tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi dan kesehatan masyarakat secara luas.

Baca Juga

ADHI Cetak Rekor Kontrak Baru di TW I 2026, Naik Hingga 131%

El Nino Berpotensi Perparah Musim Kemarau Nasional

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengingatkan bahwa risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di Indonesia akan meningkat akibat fenomena El Nino pada semester kedua 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa musim kemarau berpotensi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

Ia juga menegaskan bahwa secara umum kondisi iklim pada 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan kondisi normal. “Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” kata Faisal, Kamis (9/4/2026).

Pernyataan ini menegaskan bahwa kombinasi dua fenomena tersebut menjadi faktor utama yang meningkatkan potensi kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

Memahami ENSO dan Dampaknya terhadap Cuaca Indonesia

Faisal menuturkan bahwa saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation atau ENSO masih berada pada fase netral. Namun, indikasi penguatan menuju fase El Nino perlu diwaspadai karena dapat memperparah musim kemarau yang akan datang.

ENSO sendiri merupakan fenomena iklim global yang ditandai oleh perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini memiliki tiga fase utama, yakni El Nino sebagai fase pemanasan, La Nina sebagai fase pendinginan, serta fase netral.

Perubahan yang terjadi dalam sistem ENSO akan memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Dalam kondisi El Nino, curah hujan cenderung menurun sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan.

Peningkatan Titik Panas Jadi Sinyal Dini Ancaman Karhutla

Sejalan dengan kondisi tersebut, BMKG mencatat jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia hingga awal April 2026 telah mencapai 1.601 titik. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim mulai terasa sejak awal tahun. Jika tidak diantisipasi dengan baik, peningkatan titik panas ini dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, terutama di wilayah dengan lahan gambut yang rentan terbakar.

Pemantauan hotspot menjadi salah satu langkah penting dalam mitigasi, karena dapat membantu pemerintah dalam mengambil tindakan cepat sebelum kebakaran meluas.

Wilayah Rawan Karhutla Mulai Teridentifikasi Sejak Pertengahan Tahun

Faisal merinci bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada bulan Juni. Selanjutnya, risiko tersebut akan meluas ke wilayah Jambi dan Sumatera Selatan, sebelum akhirnya menjangkau Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.

Pola penyebaran ini mengikuti karakteristik musim kemarau yang bergerak secara bertahap di Indonesia. Oleh karena itu, setiap daerah perlu meningkatkan kesiapsiagaan sesuai dengan waktu puncak risiko di wilayah masing-masing.

Langkah antisipasi yang tepat waktu menjadi kunci dalam menekan dampak karhutla, terutama di daerah yang memiliki riwayat kebakaran tinggi setiap tahunnya.

Upaya Mitigasi Dilakukan Melalui Modifikasi Cuaca dan Rewetting

Sebagai langkah mitigasi, BMKG terus memperkuat pendekatan preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca. Salah satu metode yang digunakan adalah pembasahan lahan atau rewetting, khususnya di wilayah gambut yang sangat rentan terhadap kebakaran.

“Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar,” kata Faisal.

Upaya ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam mengurangi risiko kebakaran sejak dini. Dengan menjaga kelembapan tanah, potensi munculnya api dapat ditekan secara signifikan.

Selain itu, teknologi modifikasi cuaca juga memungkinkan intervensi langsung terhadap kondisi atmosfer untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah tertentu.

Kesiapsiagaan Lintas Sektor Jadi Kunci Hadapi Ancaman Iklim

Faisal juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi potensi kekeringan dan karhutla. Peran pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat menjadi sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanganan.

Koordinasi yang baik antarinstansi diharapkan mampu mempercepat respons terhadap potensi kebakaran. Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar juga perlu terus ditingkatkan.

Dengan meningkatnya ancaman akibat perubahan iklim global, sinergi semua pihak menjadi faktor utama dalam menjaga lingkungan tetap aman. Upaya bersama ini diharapkan mampu meminimalkan dampak kekeringan dan kebakaran hutan yang berpotensi terjadi pada 2026.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Torehkan Prestasi Mendunia, PLN Indonesia Power Borong 9 Penghargaan di Ajang Global CSR & ESG Awards 2026

Torehkan Prestasi Mendunia, PLN Indonesia Power Borong 9 Penghargaan di Ajang Global CSR & ESG Awards 2026

Prancis Bidik Jadi Arab Saudi Eropa Lewat Ekspor Listrik Bersih

Prancis Bidik Jadi Arab Saudi Eropa Lewat Ekspor Listrik Bersih

PLN Rampungkan Kajian Jaringan Listrik Hijau Jawa-Sumatra

PLN Rampungkan Kajian Jaringan Listrik Hijau Jawa-Sumatra

Lingkar Kediri Resmi Rilis, Mbak Wali Teken Aksi Literasi Hijau

Lingkar Kediri Resmi Rilis, Mbak Wali Teken Aksi Literasi Hijau

PT MUJ Dorong Transisi Energi dan Ekonomi Lokal Jawa Barat

PT MUJ Dorong Transisi Energi dan Ekonomi Lokal Jawa Barat