Senin, 18 Mei 2026

Saham HILL Tertekan Aksi Jual Broker Asing di Tengah Rugi Jumbo

Saham HILL Tertekan Aksi Jual Broker Asing di Tengah Rugi Jumbo
Saham HILL Tertekan Aksi Jual Broker (FOTO: NET)

JAKARTA - Tekanan besar muncul dalam pergerakan saham PT Hillcon Tbk (HILL) sepanjang Mei 2026.

Di tengah pergerakan harga yang cenderung melemah, broker besar terlihat dominan melakukan distribusi.

Kalender transaksi broker menunjukkan CGS International Sekuritas Indonesia (YU) hampir terus berada di sisi jual dalam sebagian besar perdagangan Mei.

Baca Juga

Monopoli dan Ilusi Transisi Energi Hijau di Indonesia

Aksi distribusi terbesar muncul pada 4 Mei, ketika broker tersebut melepas saham HILL senilai Rp1,1 miliar dengan volume mencapai 540,4 ribu lot di rata-rata harga 20.

Tekanan jual itu belum berhenti.

Pada 5 Mei, YU kembali mencatat net sell Rp211,5 juta, lalu sempat berubah arah dengan pembelian kecil Rp10 juta pada 6 Mei dan Rp4 juta pada 7 Mei.

Namun setelah itu, distribusi kembali berlanjut.

Pada 8 Mei, YU melepas Rp42,6 juta saham HILL, lalu meningkat menjadi Rp95,1 juta pada 11 Mei, Rp946,1 juta pada 12 Mei, dan Rp261 juta pada 13 Mei.

Jika ditotal, sepanjang periode tersebut YU mencatat net sell lebih dari Rp2,6 miliar.

Di sini ada tekanan distribusi yang cukup konsisten di saham HILL.

Yang menarik, tekanan jual tersebut muncul ketika fundamental Hillcon juga sedang mengalami tekanan besar.

Dalam paparan publik Desember 2025, Hillcon sebenarnya masih menunjukkan posisi sebagai kontraktor tambang dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dan telah menyelesaikan 212 proyek.

Hillcon juga memiliki bisnis utama di jasa pertambangan nikel dan batu bara dengan kontribusi hampir seluruh pendapatan berasal dari jasa pertambangan.

Pada 2025, sekitar 97,54 persen pendapatan berasal dari jasa pertambangan, sedangkan jasa konstruksi hanya berkontribusi sekitar 2,46 persen.

Namun tekanan mulai terlihat dari sisi keuangan.

Pendapatan Hillcon turun menjadi Rp3,45 triliun pada 2025 dari Rp3,94 triliun pada 2024.

Yang lebih berat, laba kotor Hillcon berubah menjadi rugi bruto Rp417,7 miliar pada 2025 setelah sebelumnya masih mencatat laba bruto Rp543,7 miliar pada 2024.

Kondisi itu ikut menekan laba bersih perusahaan.

Pada 2025, Hillcon membukukan rugi bersih Rp1,28 triliun, berbalik tajam dibanding laba tipis Rp5,87 miiliar pada 2024 dan laba Rp438,9 miliar pada 2023.

Tekanan juga terlihat dari posisi ekuitas yang turun drastis.

Total ekuitas perusahaan menyusut menjadi Rp419,3 miiliar pada 2025 dari Rp1,71 triliun pada 2024.

Sementara total liabilitas meningkat menjadi Rp4,88 triliun.

Meski begitu, Hillcon sebenarnya masih memiliki basis operasional yang cukup besar.

Hingga akhir 2025, perusahaan mengoperasikan 2.660 unit alat berat dengan 1.509 unit alat berat utama operasional.

Perusahaan juga masih menangani proyek pertambangan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Kalimantan hingga Sulawesi dan Maluku.

Di pasar, kondisi ini membuat saham HILL bergerak lebih berat.

Aksi jual YU menjadi sinyal bahwa pelaku besar masih cenderung berhati-hati terhadap arah saham ini.

Distribusi yang terlalu agresif ini membuat harga bergerak mendekati area bawah dan membuka ruang technical rebound jangka pendek ketika tekanan jual mulai mereda.

Untuk saat ini, pasar masih akan menunggu apakah distribusi CGS International benar-benar selesai atau justru masih berlanjut dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya.

Sebab sejauh ini, arah HILL masih berada dalam fase tarik-ulur antara tekanan fundamental dan peluang rebound teknikal jangka pendek.

David Ilham

David Ilham

variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Transisi Energi Terlambat, Ketahanan Energi RI Rentan Guncangan

Transisi Energi Terlambat, Ketahanan Energi RI Rentan Guncangan

PLN Rampungkan Perbaikan Komponen GI Ropa demi Listrik Flores

PLN Rampungkan Perbaikan Komponen GI Ropa demi Listrik Flores

Krisis Selat Hormuz Jadi Alarm Bahaya Ketahanan Energi Indonesia

Krisis Selat Hormuz Jadi Alarm Bahaya Ketahanan Energi Indonesia

Bahaya! Jalan Umum Pelintasan Hauling Nikel di Siuna Licin dan Rusak

Bahaya! Jalan Umum Pelintasan Hauling Nikel di Siuna Licin dan Rusak

Permintaan Fast Charging Melonjak, BYD Alami Kendala Pasokan Baterai

Permintaan Fast Charging Melonjak, BYD Alami Kendala Pasokan Baterai