Pengamat: Pengembangan Energi Terbarukan RI Belum Serius

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 19 Mei 2026
Pengamat: Pengembangan Energi Terbarukan RI Belum Serius
Pemanfaatan energi baru terbarukan tenaga surya (FOTO: NET)

JAKARTA - Firdaus Cahyadi Program Officer Natural Resources and Climate Justice Yayasan Tifa berpendapat bahwa pengembangan energi terbarukan di tanah air baru sebatas wacana dan belum digarap secara serius.

Bahkan, dalam pandangannya, pemanfaatan serta regulasi energi terbarukan di Indonesia justru terkesan masih dihambat.

Ia memaparkan salah satu contohnya yakni pembatasan penggunaan panel surya pada skala rumah tangga, yang dilakukan atas alasan demi menyerap pasokan listrik PLN yang tengah mengalami kelebihan suplai (oversupply).

“Solar panel misalnya, sebenarnya itu yang paling paling mudah, dan tapi ternyata dibatasi penggunaannya untuk sektor rumah tangga. Kalau permasalahannya oversupply seharusnya atau beberapa PLTU Batubara yang dipensiunkan secara dini,” ungkap Firdaus, Minggu (17/5/2026).

Ia menegaskan, optimalisasi dan implementasi energi terbarukan memerlukan dukungan penuh dari pihak pemerintah, bukannya malah dibatasi.

Apalagi di tengah situasi krisis energi global, penguatan sektor energi terbarukan baik untuk pasokan listrik maupun bahan bakar dinilai olehnya bersifat sangat krusial.

“Di rumah tangga itu bisa langsung menggunakan panel surya, asal diberi insentif oleh PLN misalnya. Dan juga misalnya untuk mengisi bahan bakar mobil listrik misalnya, tidak lagi menggunakan batu bara tapi menggunakan selaput panel, bisa mengurangi ketergantungan ke dari BBM juga,” ujarnya.

Di samping hal tersebut, Firdaus juga memberikan sorotan terhadap kebijakan pemerintah yang menggelontorkan insentif bagi sektor kendaraan listrik, yang salah satu tujuannya untuk menekan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) yang harganya melonjak di tengah kecamuk Perang Timur Tengah.

Ia justru menilai langkah kebijakan tersebut kurang tepat, sebab arah insentif yang dialokasikan pemerintah berfokus pada kepemilikan kendaraan pribadi.

Bukan diarahkan untuk mengalihkan mobilitas pada transportasi publik yang mengadopsi energi terbarukan.

“Dari sisi transportasi pemerintah harus mengubah paradigma yang selama ini bertumbuh pada kendaraan pribadi, diubah atau digeser paradigmanya ke transportasi massal. Begitu juga infrastruktur-infrastruktur yang harus dibangun mengarah ke transportasi massal,” ucap pengamat Yayasan Tifa itu.

Dari aspek ketenagalistrikan, pemerintah disarankan untuk segera menyelesaikan problematika kelebihan pasokan PLN dan menonaktifkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Melalui langkah tersebut, pemanfaatan energi terbarukan dapat dipacu lebih cepat, sehingga Indonesia tidak terperosok ke dalam pusaran krisis energi global.

“Dari energi ini kan sebenarnya krusial dan juga banyak banyak uangnya di situ. Maka konflik-konflik kepentingan terkait dengan kebijakan energi itu harus diminimalisir. Kami melihatnya di Indonesia saat ini konflik kepentingan masih kentara banget,” pungkasnya.

Sebelumnya, pihak Pemerintah menilai bahwa pemberian insentif kendaraan listrik menjadi sebuah strategi krusial untuk menekan tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah ancaman krisis energi global sebagai dampak konflik geopolitik yang masih terus bergulir.

Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) memperkirakan potensi perang masih akan berlangsung lama sehingga diperlukan langkah nyata untuk mengontrol konsumsi energi.

“Kelihatannya itu perangnya masih panjang. Artinya konsumsi BBM kami juga akan masih tinggi dan dengan harga yang lebih tinggi. Jadi kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor kami dengan signifikan,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan di Jakarta, Selasa (12/5/2026) pekan lalu.

Menkeu mengimbuhkan, estimasi lonjakan konsumsi BBM bersubsidi di tengah melambungnya harga minyak dunia wajib diantisipasi dengan matang.

Di mana regulasi untuk menggeser subsidi menjadi insentif kendaraan listrik dipandang sebagai sebuah langkah yang dinilai pas.

“Kami lihat harga minyak dunia kan tidak akan turun. Setelah saya ke Amerika, saya pelajari cara Amerika melakukan diskusi dan mendesain ketentuan (negosiasi) yang diberikan untuk Iran, itu sepertinya desainnya untuk (negara) yang kalah perang,” jelas Purbaya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua