Pemprov NTB Perluas Kerja Sama Global Kembangkan Energi Bersih

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 21 Mei 2026
Pemprov NTB Perluas Kerja Sama Global Kembangkan Energi Bersih
Pemprov NTB Perluas Kerja Sama Global (FOTO: NET)

MATARAM - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendapatkan kepercayaan sebagai tuan rumah dalam ajang forum internasional terkait kerja sama energi terbarukan.

Pertemuan tersebut mempertemukan perwakilan delegasi dari Indonesia, Madagaskar, Nepal, Kenya, serta Jerman di Hotel Prime Park, Mataram, pada Selasa (19/5).

Forum ini turut dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari perwakilan Kementerian ESDM RI, Pemerintah Republik Federal Jerman dan GIZ, Kementerian Luar Negeri RI, Bappenas, kalangan akademisi, hingga para pelaku industri energi terbarukan.

Pertemuan kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular ini difokuskan pada pembahasan penguatan kolaborasi dalam transisi menuju energi bersih yang berkeadilan.

Fokus utamanya ditujukan bagi negara-negara berkembang serta wilayah kepulauan yang kini tengah menghadapi tantangan terkait akses energi maupun perubahan iklim.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, yang diwakili oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB, Ahsanul Khalik, menyampaikan rasa apresiasi atas ditunjuknya NTB sebagai tuan rumah penyelenggaraan forum internasional tersebut.

“Atas nama Pemerintah Provinsi NTB dan seluruh masyarakat NTB, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi di Pulau Lombok, daerah yang terus tumbuh menjadi wilayah yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Aka, sapaan akrab Ahsanul Khalik.

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Aka, Gubernur Miq Iqbal menegaskan bahwa di tengah kompleksitas tantangan perubahan iklim, ketahanan energi, dan tekanan ekonomi dunia, transisi menuju energi bersih telah menjadi kebutuhan global.

Namun, transisi energi bersih ini tidak boleh sekadar berorientasi pada pembangunan teknologi dan investasi saja.

Melainkan harus memastikan kelompok masyarakat kecil, kawasan terpencil, dan kelompok rentan tetap memperoleh akses energi yang adil serta merata.

“Transisi energi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi kebutuhan bersama. Namun prosesnya harus dijalankan secara adil dan inklusif agar tidak meninggalkan masyarakat kecil maupun kawasan terpencil,” katanya.

Aka menjelaskan bahwa Provinsi NTB memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar.

Mulai dari energi surya, panas bumi, bioenergi, mikrohidro, hingga potensi energi kelautan.

“Tingginya intensitas sinar matahari sepanjang tahun dinilai menjadi peluang besar bagi NTB untuk berkembang sebagai salah satu pusat energi surya di Indonesia,” jelasnya.

Kondisi geografis NTB yang terdiri dari berbagai wilayah kepulauan dan kawasan terpencil membuat pengembangan energi berbasis komunitas, termasuk renewable energy minigrids, menjadi sangat relevan dalam memperluas akses energi masyarakat.

“Kami percaya energi bukan hanya soal listrik dan infrastruktur. Tetapi juga berkaitan dengan kualitas hidup, pendidikan, kesehatan, kesempatan ekonomi, dan masa depan generasi mendatang,” katanya.

Pemerintah Provinsi NTB berharap forum kerja sama internasional ini mampu menjadi ruang strategis untuk memperkuat solidaritas antarnegara berkembang dalam menghadapi tantangan geopolitik global, krisis energi, dan perubahan iklim yang dampaknya dirasakan secara lintas negara.

Kolaborasi antarnegara tidak cukup hanya berpijak pada kepentingan ekonomi semata.

Namun harus dibangun melalui transfer pengetahuan, penguatan kapasitas, pengembangan teknologi hijau, serta keberpihakan terhadap pembangunan berkelanjutan.

“Tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi tantangan perubahan iklim dan transisi energi sendirian. Dibutuhkan kemitraan global yang dibangun atas dasar kolaborasi dan saling menguatkan,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi NTB, lanjut Aka, sangat terbuka untuk memperluas kerja sama internasional dalam pengembangan energi terbarukan, investasi hijau, teknologi ramah lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat berbasis energi bersih.

“NTB ingin menjadi bagian penting dalam peta pengembangan energi bersih kawasan Asia dan negara berkembang,” tegasnya.

Melalui forum internasional ini, Pemprov NTB berharap lahir langkah-langkah konkret, penguatan jejaring internasional, serta berbagai inovasi yang mampu mempercepat pengembangan energi bersih yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Mengenai Super Grid Listrik Berbasis EBT, sebelumnya Pemprov NTB telah melakukan kajian bersama untuk mendukung kemitraan tiga provinsi, yakni Bali, NTB, dan NTT, dalam pengembangan jaringan listrik terintegrasi.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Kerja Sama Regional Bali–Nusa Tenggara Barat–Nusa Tenggara Timur (KR BNN).

Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Niken Arumdati, menyampaikan bahwa super grid tersebut nantinya akan mencakup jaringan listrik yang menghubungkan Provinsi NTB hingga ke Bali.

Menurut Niken, NTB memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar dan terus dikembangkan.

Potensi tersebut mencakup tenaga surya, angin, air, hingga panas bumi, yang dapat menjadikan NTB sebagai produsen listrik hijau.

“Kontribusi energi baru terbarukan (EBT) di NTB baru mencapai sekitar 25 persen. Sisanya masih didominasi energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas,” katanya.

Dari sisi potensi, kapasitas energi terbarukan di NTB terus mengalami perkembangan.

Untuk pembangkit listrik tenaga surya yang terhubung jaringan (on grid), kapasitas terpasang mencapai 21,6 megawatt.

Sementara pembangkit listrik tenaga air skala mikro dan mini mencapai 18,5 megawatt.

Selain itu, terdapat kapasitas tambahan sebesar 26,8 megawatt yang dibangun secara off grid oleh sektor industri.

NTB juga mulai melakukan pengembangan potensi panas bumi di wilayah Hu’u, Kabupaten Dompu, dengan estimasi kapasitas mencapai 65 megawatt, di mana izin pengembangannya telah diperoleh sejak Maret 2025.

Ke depan, Pemprov NTB menargetkan percepatan pembangunan infrastruktur energi terbarukan dapat mendorong kemandirian energi daerah.

Langkah ini sekaligus bertujuan memperkuat posisi NTB sebagai pusat energi hijau di kawasan Indonesia tengah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua