Sumur MNK Rokan Produksi 500 Barel Minyak per Hari
JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan sumur minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional (MNK) di Blok Rokan, Riau, menghasilkan minyak 500 barel per hari (bph).
“Kemarin baru satu sumur yang dibor, ada produksinya 500 barel minyak per hari,” ujar Kepala SKK Migas Djoko Siswanto ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat.
Ke depannya, Djoko Siswanto menambahkan, Pertamina bakal meneruskan pengeboran pada sumur-sumur yang lain.
Ia optimis, pengelolaan sumur migas nonkonvensional tersebut bakal menghasilkan ribuan barel minyak per hari.
“Sekarang Pertamina lagi mau mengajukan kontrak bagi hasilnya yang lebih menguntungkan. Kami dari pagi membahas dengan Pak Wamen (ESDM Yuliot) untuk Pertamina mengajukan berdasarkan Kepmen,” kata Djoksis sapaan akrab Djoko Siswanto.
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendeteksi adanya potensi raksasa pada sub-cekungan North Aman yang diproyeksikan menyimpan sumber daya hingga 11,3 miliar barel minyak di tempat (BBO).
Peluang yang sangat krusial ini menjadi potensi yang selama ini belum pernah dikelola di Indonesia.
PHR pun telah menyusun peta jalan pengelolaan MNK ini secara berkala, yang diawali dengan target penyerahan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) pada triwulan II 2026, lalu diteruskan dengan pengeboran sumur appraisal pada triwulan IV 2026.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menuturkan bahwa tugas besar bagi Indonesia saat ini adalah bagaimana pemerintah bisa menyediakan regulasi serta kebijakan fiskal yang kompetitif guna menunjang pengelolaan sumur migas nonkonvensional tersebut.
“Setelahnya, kami akan mengundang mitra-mitra, perusahaan, untuk menciptakan ekosistem seperti yang dimiliki oleh Permian Basin (di Amerika Serikat),” ujar Oki.
Ia juga mengimbuhkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak luput dari fokus Pertamina supaya Indonesia kian matang dalam pengelolaan MNK.
Wakil Menteri ESDM Yuliot memasang target regulasi anyar mengenai pengelolaan minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional dapat selesai pada bulan Juni demi menggenjot produksi migas domestik di kala nilai tukar rupiah sedang melemah.
Berdasarkan penuturan Yuliot, melalui peningkatan produksi migas domestik, Indonesia dapat memangkas ketergantungan terhadap aktivitas impor migas.