Pertamina Beberkan Strategi Transisi Energi dan Bisnis Rendah Karbon

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Sabtu, 06 Juni 2026
Pertamina Beberkan Strategi Transisi Energi dan Bisnis Rendah Karbon
Pertamina Beberkan Strategi Transisi Energi (FOTO: NET)

JAKARTA - Pertamina mengungkap komitmen serta strategi mereka dalam menjaga ketahanan sekaligus menjalankan transisi energi melalui penerapan dual growth strategy.

Langkah pertama dilakukan dengan cara memaksimalkan bisnis warisan (maximizing legacy business) yang berfokus pada pengoptimalan nilai di sektor hulu, menciptakan fleksibilitas pada kilang, mentransformasi bisnis bahan bakar ritel, serta memperluas jaringan infrastruktur dan pelayanan.

Langkah kedua adalah mematangkan pembangunan bisnis rendah karbon (building low carbon business).

Pernyataan tersebut dipaparkan oleh Agung Wicaksono selaku Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina dalam sesi diskusi panel yang mengusung tema 'Decarbonization : Global Technology Trends and Best Practices' pada Rabu, (3/6).

Pertemuan ini menjadi bagian dari forum regional 'World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific' yang diinisiasi oleh 'World Bank Group' untuk membahas transisi energi berkelanjutan di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Melalui materi presentasi bertajuk 'Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business', Agung memaparkan proses transisi energi yang diterapkan demi meraih target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

Agung menjelaskan bahwa Pertamina kini mengemban visi untuk menjaga ketahanan energi domestik sekaligus mengakselerasi transisi energi lewat program dekarbonisasi yang padu serta pembangunan bisnis rendah karbon.

Upaya ini berjalan selaras dengan program Asta Cita yang dicanangkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Bagi Pertamina, lanjut Agung, pelaksanaan transisi energi di Indonesia wajib diselaraskan dengan tantangan trilema energi yang mencakup Energy security, affordability, dan juga sustainability.

"Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, karena di saat dunia ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change," ujar Agung dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).

Berbagai inisiatif serta kebijakan dekarbonisasi yang ditempuh Pertamina pun dijadikan sebagai bahan studi bagi para delegasi dari berbagai negara.

"Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, seperti biodiesel, bioethanol, kemudian juga rencana pengembangan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage)," urai Agung.

Pada sektor dekarbonisasi, emisi ditekan dengan mengganti alat operasional berbasis bahan bakar fosil menjadi bertenaga listrik.

Langkah efisiensi energi ini membuahkan hasil reduksi sebesar 1,52 MMtCO2e (Million Metric Tons Of Carbon Dioxide) yang merepresentasikan 66,86 persen dari total target penurunan emisi Pertamina.

Sementara pada sektor bisnis rendah karbon, pengembangan dioptimalkan melalui inovasi bahan bakar nabati (biofuel).

Penjualan biofuel diproyeksikan mampu menyentuh angka 60 Juta kl di tahun 2029 dengan mengandalkan Bio Refinery Cilacap sebagai proyek utamanya.

Pertamina juga terus memacu potensi listrik dari panas bumi hingga berkapasitas 1,4 GW (Gigawatt) melalui proyek yang berjalan di Hululais serta Lahendong.

Satu di antara proyek strategis yang sedang digarap yaitu Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 & 8 yang kini telah terdaftar dalam Green Book Kementerian PPN/Bappenas guna menyokong transisi energi dan pembangunan rendah karbon.

Pencatatan proyek ini ke dalam Green Book membuka peluang besar untuk memperoleh sokongan dana dari lembaga finansial dunia, termasuk World Bank.

Dukungan tersebut diharapkan mampu mempercepat perluasan kapasitas panas bumi domestik sekaligus memperkokoh bauran energi bersih di Indonesia.

Di samping itu, Pertamina berkomitmen memangkas emisi metana (CH4) hingga 40% dari tingkat emisi dasar tahun 2021.

Program zero flaring pun diterapkan pada sektor hulu.

Aksi nyata ini ditunjang oleh gerakan pelacakan dan perbaikan kebocoran melalui program Leak Detection & Repair Campaign atau LDAR.

Melalui program tersebut, emisi metana yang tidak terkendali berhasil dipangkas berkisar antara 30 hingga 39,7 persen.

Pencapaian positif ini salah satunya tercatat di lapangan PEP Donggi Matindok yang sukses menekan angka kebocoran hingga 68,4 persen pada tahun 2025.

Metode serupa juga diaplikasikan di JOB Pertamina-Medco E&P Tomori dan berhasil memotong emisi CH4 sekitar 30 persen pada tahun 2025.

Adapun PT Badak NGL turut mencatatkan kesuksesan dengan mereduksi emisi CH4 sebesar 38,7 persen pada tahun 2025.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua