Siasat ESDM Dongkrak Produksi Migas Lokal di Tengah Tekanan Rupiah
JAKARTA - Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan, pemerintah bakal menggenjot produksi dalam negeri sebagai langkah menjaga ketahanan energi di tengah depresiasi nilai tukar rupiah.
Mata uang garuda di pasar spot terpantau mandek di level Rp 18.049 per dolar AS pada hari ini, Jumat (5/6/2026) pukul 14.00 WIB.
Yuliot memaparkan, pihak eksekutif berupaya menekan dampak depresiasi rupiah pada sektor energi melalui peningkatan kapasitas produksi minyak dan gas bumi (migas) domestik.
Menurutnya, pemerintah saat ini tengah mengaselerasi proyek migas nonkonvensional (unconventional) di sejumlah wilayah kerja yang menyimpan cadangan potensial berdasarkan hasil survei geologi.
"Kami berusaha untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, di antaranya adalah untuk blok-blok yang memiliki cadangan yang cukup berdasarkan identifikasi dari survei geologi, ini kami akan menerapkan teknologi unconventional," kata Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan, salah satu kawasan yang dinilai paling matang untuk dieksploitasi saat ini adalah Blok Rokan.
Pertamina Hulu Rokan pun telah merampungkan kajian awal terkait pengembangan migas nonkonvensional tersebut.
Yuliot menyebutkan langkah serupa sebenarnya pernah diterapkan oleh Amerika Serikat (AS).
Ia mengulas, ketika produksi migas AS sempat anjlok, negara adidaya tersebut berhasil mengatrol kembali produksinya lewat pengelolaan nonkonvensional, bahkan mengubah status AS menjadi eksportir migas.
Pemerintah pun menaruh harapan besar agar adopsi teknologi ini mampu mendongkrak output migas nasional.
"Jadi kami mengharapkan peningkatan produksi itu relatif signifikan," ucap Yuliot.
Kini Kementerian ESDM bersama SKK Migas tengah mengebut penyusunan regulasi untuk pengelolaan migas nonkonvensional tersebut.
Aturan baru itu ditargetkan rampung pada akhir Juni 2026 agar implementasinya bisa langsung dimulai pada awal Juli.
"Jadi kalau ini tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berarti kami juga akan mengurangi impor, dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang," tutupnya.