BRIN Temukan Metode Efisien untuk Mengolah Bijih Nikel

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 09 Juli 2026
BRIN Temukan Metode Efisien untuk Mengolah Bijih Nikel
BRIN Temukan Metode Efisien (FOTO: NET)

JAKARTA - Peneliti Pusat Riset Metalurgi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Setiawan mendapati terobosan teknologi pemrosesan batuan nikel yang jauh lebih hemat, adaptif, serta minim sisa buangan, sebab sanggup memaksimalkan pemakaian sumber daya secara total.

Melalui penjelasan dari Sumbernya, Rabu, Iwan memaparkan bahwa rekayasa ini sanggup mempergunakan 98 persen bahan sisa buangan dari batuan nikel.

Pembaruan itu pun telah melahirkan kurang lebih lima hak paten yang berhubungan dengan sistem pemrosesan nikel yang dirancang oleh kelompok Pusat Riset Metalurgi BRIN.

"Bijih nikel umumnya hanya mengandung sekitar 1–2 persen nikel. Artinya, lebih dari 98 persen material lainnya berpotensi menjadi limbah apabila tidak dimanfaatkan. Oleh karena itu, metode pengolahan apapun harus mampu mengoptimalkan pemanfaatan seluruh komponen yang terkandung di dalam bijih," katanya.

Iwan menjabarkan bahwa rekayasa yang sewaktu ini kerap dipergunakan pada umumnya cuma sanggup memproses keliru satu ragam batuan nikel, yakni saprolit atau limonit.

Di samping itu, sistem tersebut memicu sisa buangan dalam total masif lantaran kadar nikel di dalam batuan terhitung kecil.

Sesuai penuturannya, pembaruan yang dirancang BRIN mempunyai kelebihan lantaran sanggup memproses dua ragam batuan nikel sekalian, yaitu saprolit serta limonit, lewat satu perlakuan sistem.

Rekayasa itu adalah bentuk gubahan dari sistem Caron yang sudah diselaraskan dengan keadaan simpanan nikel Indonesia sewaktu ini.

"Cadangan nikel terus berubah, kualitas bijih juga semakin beragam. Karena itu, diperlukan teknologi baru yang lebih adaptif terhadap karakteristik bijih yang tersedia," ujarnya.

Bukan cuma sanggup memproses bermacam ragam batuan, rekayasa ini pun dipersiapkan guna memangkas pemakaian daya ketimbang sistem pirometalurgi lama.

Keliru satu kelebihan utamanya ialah menekan sisa buangan melalui pemakaian elemen-elemen lain yang selama ini belum dipergunakan secara maksimal.

Di dalam sistem yang dirancang BRIN, bukan cuma nikel yang diekstrak, melainkan pun zat besi serta magnesium yang terdapat di dalam batuan.

Zat besi sanggup diproses menjadi barang bernilai jual tambah sebagai Fe2O3 buat pewarna atau sebagai besi oksalat buat bahan dasar baterai, sementara magnesium diolah menjadi zat yang sanggup dipergunakan buat bermacam keperluan sektor industri.

Ia menyisipkan bahwa perlakuan tersebut selaras dengan prinsip penghematan sumber daya serta ekonomi sirkular yang sewaktu ini menjadi tujuan pemantapan sektor industri mineral di bermacam wilayah negara.

"Prinsipnya adalah tidak ada sumber daya yang terbuang. Nikel, besi, dan magnesium semuanya diupayakan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, sehingga limbah dapat ditekan seminimal mungkin," ucap Iwan.

Pemantapan rekayasa tersebut sudah dilaksanakan hingga tataran laboratorium serta semi-pilot.

Kelompok peneliti sudah sukses melaksanakan pengujian sistem dalam volume puluhan hingga ratusan kilogram guna memastikan keandalan teknologinya.

Walau begitu, Iwan membenarkan bahwa hambatan selanjutnya ialah pendirian sarana pilot plant dalam tataran lebih masif guna menguji keabsahan sudut teknis serta nilai ekonomi sebelum rekayasa sanggup diterapkan di sektor industri.

"Pada skala laboratorium hasilnya sudah sangat baik. Tahap berikutnya adalah meningkatkan skala proses melalui pilot plant, sehingga dapat dibuktikan kelayakan ekonominya untuk kebutuhan industri," tutur Iwan Setiawan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua