BRIN Percepat Operasional Observatorium Nasional Gunung Timau di NTT

Jumat, 08 Mei 2026 | 13:50:54 WIB
Observatorium Nasional Gunung Timau (FOTO: NET)

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah memacu penyelesaian pembangunan observatorium astronomi di Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang digadang-gadang akan menjadi fasilitas pengamatan antariksa tercanggih di kawasan Asia.

Fasilitas ini memiliki teleskop paling besar di Asia Tenggara dengan letak yang sangat menguntungkan di wilayah khatulistiwa.

Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan hal tersebut usai meninjau langsung lokasi di Gunung Timau pada Selasa, 5 Mei 2026.

Arif menginstruksikan agar perakitan teleskop segera diselesaikan supaya dapat berfungsi secara utuh guna memperkokoh kerja sama penelitian di tingkat global.

“Kami ingin teleskop ini segera dirampungkan dan beroperasi penuh, karena akan menjadi fasilitas strategis bagi penguatan riset antariksa Indonesia. Sekaligus mendukung pengembangan spaceport nasional di Biak, Papua,” kata Arif, Jumat (8/5/2026).

Hingga saat ini, tahap pembangunan fisik teleskop dilaporkan sudah menyentuh angka 95 persen.

Selain fokus pada operasional alat, Arif menekankan pentingnya penguatan ekosistem penelitian melalui perekrutan peneliti baru, pembenahan gedung magnetometer, serta peningkatan sarana pendukung bagi staf ahli.

“Tidak hanya membangun teleskop, tetapi kami juga perlu memperkuat ekosistem risetnya. Penambahan peneliti dan revitalisasi gedung magnetometer menjadi bagian penting untuk mendukung operasional observatorium secara optimal,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Arif juga memberikan catatan kepada Pemerintah Kabupaten Kupang terkait pentingnya perbaikan akses infrastruktur jalan menuju lokasi observatorium.

“Observatorium ini memiliki peran strategis bagi riset antariksa Indonesia. Karena itu, akses jalannya juga harus diperkuat agar kawasan ini tidak terisolasi,” ucapnya.

Peneliti dari Pusat Riset Antariksa BRIN, Andre Pandie, menambahkan bahwa kehadiran fasilitas ini sejalan dengan rencana pembangunan bandara antariksa (spaceport) di Biak yang menjadi prioritas penguatan sektor antariksa tanah air.

“Observatorium ini nantinya diharapkan menjadi fasilitas pendukung utama dalam operasional dan pengembangan aktivitas antariksa nasional,” kata Andre.

Andre menyebutkan bahwa teleskop ini merupakan yang terbesar di wilayah Asia Tenggara.

Ia menambahkan bahwa saat ini hanya ada dua unit teleskop dengan spesifikasi serupa di dunia, yakni berlokasi di Jepang dan Indonesia.

“Dan juga posisi kami yang strategis di khatulistiwa sehingga menjadi spot yang ideal untuk pengamatan luar angkasa. Karena itu, sudah ada kerjasama internasional dan akan ada kerjasama berikutnya yang menunggu bila teleskop ini sudah beroperasi,” ujarnya.

Terkini