Dirjen Migas Optimistis CNG Jadi Alternatif Aman Rumah Tangga

Selasa, 19 Mei 2026 | 10:04:20 WIB
Dirjen Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman (FOTO: NET)

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yakin bahwa pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) dapat menjadi jalan keluar yang tepat bagi pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga ke depan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, memastikan bahwa ketersediaan gas bumi di dalam negeri sangat melimpah dan penggunaannya dijamin aman lantaran disokong oleh teknologi modern.

Upaya beralih energi ini menjadi langkah penting pemerintah guna menekan pembengkakan anggaran subsidi yang dipicu oleh tingginya angka impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Menurut Laode, kondisi lapangan gas di tanah air saat ini minim kandungan senyawa berat, sehingga produksi LPG domestik tidak optimal.

"LPG itu kandungannya C3 dan C4, sedangkan lapangan kami itu sedikit yang menghasilkan gas dengan kandungan tersebut. Sekarang konsumsi LPG kami sudah di angka 8 jutaan atau 8,7 juta ton. Artinya, kami sudah terbebani subsidi sangat besar dan sangat tergantung dari suplai luar (impor)," ujar Laode dalam sebuah sesi podcast di Kementerian ESDM, dikutip Senin 18 Mei 2026.

Situasi tersebut mirip dengan momen di tahun 2007 ketika pemerintah mengambil langkah berani mengubah penggunaan minyak tanah menjadi LPG. Laode menggambarkan pemakaian minyak tanah pada masa itu seperti menghambur-hamburkan bahan bakar pesawat terbang.

"Minyak tanah itu sebenarnya kandungan avtur. Jadi kalau kami dulu pakai minyak tanah, itu mirip kami goreng pisang pakai avtur," ucapnya.

Guna mengatasi ketergantungan terhadap impor, pemerintah kini mengalihkan perhatian pada CNG dan LNG. Secara struktur kimia, Laode menyebutkan bahwa keduanya serupa karena didominasi oleh kandungan gas metana (C1) dan etana (C2) yang sangat banyak tersedia di Indonesia.

Pembeda utama di antara keduanya hanya pada sistem penyaluran saat pipa gas biasa tidak dapat menjangkau lokasi konsumen, khususnya di wilayah kepulauan seperti Indonesia.

Laode pun memakai perumpamaan yang sangat mudah dipahami untuk menerangkan sistem produksi CNG.

"Salah satu caranya gas tersebut kami kompres. Secara sederhananya itu dari jeruk kami kompres jadi kelereng. Jadi jeruk-jeruk yang besar tadi dikecil-kecilin biar bisa diantarkan melalui tabung. Tapi memang tekanannya tinggi, sekitar 200 sampai 250 bar. Beda jauh dengan LPG yang cuma 5 sampai 10 bar," jelas Laode.

Sementara untuk LNG, prosesnya berbeda dengan CNG yang bertumpu pada tekanan tinggi. LNG memanfaatkan teknologi pendinginan super ekstrem agar wujud gas berubah menjadi cairan.

"Kalau CNG itu dikompres maksimum 1/250 sampai 1/300 kalinya. Tapi kalau LNG itu bisa diperkecil hingga 1/600 kalinya, tapi temperaturnya harus dijaga minus 160 derajat Celcius agar tetap cair. Ini yang kami pakai untuk dikirim jauh atau diekspor menggunakan kapal," tambahnya.

Upaya masif pemerintah memasukkan CNG ke sektor rumah tangga sebagai substitusi tabung melon 3 kg memicu keraguan di tengah publik. Masyarakat banyak yang mencemaskan aspek keselamatan mengingat CNG memiliki tingkat tekanan yang jauh lebih besar dibanding LPG.

Menanggapi ketakutan masyarakat, Laode menegaskan bahwa proses peralihan ini dipersiapkan dengan matang. Pemerintah telah menyediakan sarana penunjang lewat teknologi teranyar, yaitu tabung khusus tipe 4.

"CNG ini sebenarnya bukan hal baru, risetnya sudah banyak. Sekarang teknologi tabung untuk CNG itu sudah ada Tipe 1 sampai Tipe 4," kata Laode.

Laode memaparkan bahwa tabung tipe 1 sepenuhnya masih menggunakan material logam berat. Adapun Tipe 2 dan Tipe 3 sudah dikombinasikan memakai lapisan fiber. Menatap era baru CNG ini, pemerintah langsung memilih standar terbaik.

"Tipe 4 itu sudah sama sekali fiber, sangat ringan dan sangat kuat, tetapi memang mahal. Jadi ketika sekarang Pak Menteri mencanangkan CNG ini, memang kami sudah sampai pada teknologi tipe 4. Pak Menteri sudah mempersiapkan itu, jadi bukan berarti kami baru mulai meraba-raba," pungkas Laode.

Sebelumnya, Pemerintah lewat Kementerian ESDM secara resmi memulai program besar demi memotong ketergantungan impor energi melalui uji coba penerapan CNG sebagai pengganti LPG. Langkah taktis ini diperkirakan bisa menghemat devisa negara sampai Rp130 triliun.

Bukan cuma memperkuat ketahanan energi nasional, transisi tersebut juga ditargetkan mampu mengurangi beban subsidi energi pada APBN.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa secara nilai ekonomi, CNG jauh lebih hemat dengan perkiraan harga 30 hingga 40 persen lebih murah daripada LPG.

Kelebihan utama CNG bersumber pada ketersediaan bahan baku serta infrastruktur yang sepenuhnya dikelola di dalam negeri. Hal tersebut memangkas pengeluaran biaya impor yang selama ini memberatkan neraca perdagangan negara.

"Karena yang pertama gasnya itu ada di kami dan industrinya ada di kami, dalam negeri. Jadi tidak kami melakukan import," jelas Bahlil dalam pernyataan resminya.

Terkini