Selasa, 19 Mei 2026

PLN Masukkan Strategi Hidrogen dan Amonia ke RUPTL

PLN Masukkan Strategi Hidrogen dan Amonia ke RUPTL
PLN Masukkan Strategi Hidrogen (FOTO: NET)

JAKARTA - Penerapan hidrogen serta amonia selaku bagian dari proses transisi energi di tingkat nasional mulai mendapatkan perhatian khusus di dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2024-2035.

Melalui lembaran tersebut, PLN menjelaskan bahwa pengerjaan hidrogen dan amonia diproyeksikan menjadi salah satu metode dalam mendukung dekarbonisasi pada sistem energi sekaligus optimalisasi energi baru terbarukan (EBT) di tanah air.

Di dalam dokumen RUPTL 2024-2035 dijelaskan bahwa hidrogen ialah unsur gas yang tidak berwarna, tidak berbau, bersifat non-logam, serta mudah menyulut api.

Baca Juga

Inovasi Mahasiswa Polinef Hadirkan Solusi Nyata di Papua Barat

Hidrogen pun dinyatakan sebagai elemen yang paling melimpah di jagat raya dengan porsi mencapai 75 persen dari seluruh total massa unsur alam semesta.

PLN menyampaikan bahwa hidrogen dapat diproduksi melalui beberapa sistem, antara lain elektrolisis, steam reforming, dan termokimia siklus sulfur-iodine.

Dari berbagai sistem tersebut, teknologi elektrolisis diperkirakan akan merajai produksi hidrogen pada masa yang akan datang.

“Namun diproyeksikan bahwa produksi hidrogen dengan menggunakan cara elektrolisis akan mendominasi penggunaan hidrogen di masa depan,” tulis dokumen RUPTL 2024-2035.

Lewat dokumen tersebut, PLN pun menjabarkan bahwa green hydrogen menjadi klasifikasi hidrogen dengan tingkat keberlanjutan paling tinggi karena diproduksi memakai energi terbarukan serta proses elektrolisis.

PLN menganggap pengerjaan green hydrogen memiliki kaitan dengan sistem kelistrikan nasional lantaran dapat memanfaatkan daya listrik berbasis EBT sekaligus menyerap kondisi surplus pasokan listrik (oversupply) pada sistem PLN.

“Hidrogen diharapkan dapat menyerap kondisi oversupply yang terjadi di PLN,” tulis dokumen tersebut.

Bukan hanya itu, hidrogen diproyeksikan menjadi salah satu elemen penting dalam peta jalan menuju netralitas karbon pada tahun 2060.

Penerapannya mencakup keperluan co-firing pada pembangkit listrik, pemanfaatan fuel cell, hingga bahan bakar bagi kendaraan berbasis hidrogen.

Dokumen RUPTL pun memaparkan bahwa penerapan hidrogen untuk pembangkit berbasis combustion layaknya PLTU co-firing, PLTMG, dan PLTG masih berada dalam tahapan pengerjaan.

Saat ini, penerapan hidrogen murni bagi co-firing gas turbine disebut sudah memasuki tahapan komersial.

PLN ikut membedah rantai pengerjaan hidrogen mulai dari sektor upstream, midstream, hingga downstream.

Di sisi hulu, energi terbarukan dimaksimalkan untuk memproduksi hidrogen memakai teknologi electrolysis.

Selanjutnya, hidrogen dikompresi serta didistribusikan sebelum diaplikasikan untuk keperluan industri, fuel cell, maupun co-firing.

Selain hidrogen, dokumen tersebut juga ikut mengulas pengerjaan amonia sebagai bagian dari metode energi bersih nasional.

Amonia digambarkan sebagai bahan kimia anorganik yang mempunyai potensi penerapan luas, mulai dari bahan bakar alternatif hingga bahan baku bagi industri pupuk dan plastik.

PLN mencatat bahwa Indonesia merupakan produsen amonia terbesar kelima di dunia pada tahun 2021 dengan total produksi menyentuh angka 5,9 juta metrik ton.

Meski begitu, sekitar 79 persen penerapan amonia nasional masih didominasi oleh sektor agrikultur, khususnya untuk pupuk urea.

Di dalam dokumen tersebut dicantumkan terdapat tiga aspek utama yang melandasi amonia dinilai potensial, yakni kemampuan mengikis emisi gas rumah kaca, peluang menjadi bahan bakar alternatif pembangkit listrik, serta penerapannya sebagai energi bersih pada sektor transportasi.

PLN memberikan contoh penerapan amonia bagi program co-firing batu bara dan amonia yang saat ini sedang dijalankan di Jepang oleh perusahaan pembangkit listrik JERA.

Program tersebut difokuskan demi memangkas emisi pada pembangkit listrik berbasis batu bara.

Di samping itu, teknologi penerapan hidrogen dari amonia bagi kendaraan juga mulai dikerjakan lewat riset lembaga penelitian Australia, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO).

Dokumen RUPTL mengutarakan bahwa kendaraan berbasis hidrogen mempunyai keunggulan dari segi durasi pengisian bahan bakar yang terhitung cepat serta jarak tempuh yang lebih jauh jika dibandingkan dengan kendaraan listrik berbasis baterai.

Dari segi implementasi, PLN pun merancang pengerjaan pembangkit Hybrid PLTS Battery dan Fuel Cell Hydrogen sebagai bagian dari metode pengerjaan energi hidrogen nasional.

PLN menyampaikan bahwa proyek percontohan (pilot project) pengerjaan pembangkit berbasis hidrogen tersebut direncanakan berada di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Berdasarkan analisa awal, BPP listrik indikatif untuk proyek Pembangkit Hybrid PLTS Battery dan Fuel Cell Hydrogen di Sumba NTT lebih murah dibandingkan BPP dari BBM,” tulis dokumen tersebut.

PLN menganggap pengerjaan pembangkit berbasis hidrogen juga berpeluang mengurangi emisi karbon dibandingkan dengan pembangkit berbasis energi fosil.

Oleh karena itu, perusahaan membuka kesempatan pengerjaan proyek serupa di wilayah lain yang mempunyai potensi energi terbarukan serta nilai keekonomian yang memadai.

David Ilham

David Ilham

variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Sukses Lewati Target, Jateng Kembangkan 2.331 Desa Mandiri Energi

Sukses Lewati Target, Jateng Kembangkan 2.331 Desa Mandiri Energi

Krisis Global 2026: Indonesia Harus Segera Beralih ke EBT

Krisis Global 2026: Indonesia Harus Segera Beralih ke EBT

Krisis Selat Hormuz Jadi Momentum Percepatan Transisi Energi

Krisis Selat Hormuz Jadi Momentum Percepatan Transisi Energi

PKS DIY Resmikan PLTS Masjid dan Fasilitas Charger Gratis

PKS DIY Resmikan PLTS Masjid dan Fasilitas Charger Gratis

PP-IP: Transisi Energi Harus Murah dan di Bawah Kendali Negara

PP-IP: Transisi Energi Harus Murah dan di Bawah Kendali Negara