Pabrik Baterai Listrik IBC di Karawang Beroperasi Juli 2026

Pabrik Baterai Listrik IBC (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 20 Mei 2026 | 09:56:03 WIB

KARAWANG - Fasilitas produksi baterai kendaraan listrik kerja sama antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) atau CATL ditargetkan memulai komersialisasi operasional (CoD) pada Juli 2026 mendatang.

Hingga kini, tahapan persiapan operasional untuk pabrik Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) tersebut dilaporkan telah rampung hingga 90 persen.

Diharapkan proses peresmian operasional perdana ini nantinya bakal dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, menerangkan bahwa fasilitas ini dirancang untuk memproduksi baterai dengan total kapasitas mencapai 6,9 gigawatt hour (GWh) setiap tahunnya.

"Bulan Juli ini COD. Kemungkinan akhir bulan," terang Aditya dalam bincang MIND ID Club, di Jakarta, dikutip Selasa (19/5/2026).

Saat masa operasionalnya dimulai, fasilitas di Karawang ini diproyeksikan menyuplai dua varian baterai, yakni nickel manganese cobalt (NMC) dengan porsi 20% serta lithium iron phosphate (LFP) dengan porsi dominan sebesar 80%.

"Yang akan keluar kedua-nya, secara rasionya atau porsinya jauh lebih besar LFP 80%," tegas Aditya.

Komoditas baterai tipe LFP umumnya bakal dimanfaatkan sebagai pasokan daya kendaraan listrik maupun sistem penyimpanan energi baterai (BESS), termasuk untuk infrastruktur data center serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Sementara itu, varian baterai tipe NMC dialokasikan secara khusus hanya untuk kebutuhan kendaraan listrik.

Terkait peta penyerapan pasar, Aditya mengonfirmasi bahwa korporasi telah mengamankan daftar pembeli potensial terutama untuk pasokan baterai jenis LFP.

Langkah ini juga diselaraskan dengan tren permintaan dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) yang bergerak di pasar domestik.

Aditya menilai bahwa prospek pasar industri ini di masa depan terhitung sangat potensial, seiring melonjaknya adopsi kendaraan listrik global serta masifnya kebutuhan sistem penyimpanan daya terintegrasi melalui BESS.

"Selain pasar lokal, kami juga membidik ekspor untuk jenis baterai NMC ke Jerman. Di sana pabrikan banyak menggunakannya. Sementara untuk BESS (yakni LFP) kami incar Jepang," katanya.

Demi memuluskan target penguatan ekosistem industri ini di kancah global, pihak IBC giat memperkuat kualitas kompetensi SDM internal lewat pengiriman 600 pekerja ke China untuk memperdalam keahlian teknologi terkait.

"Kami ingin mencetak engineer yang fokus pada pengembangan baterai. Selain itu kami juga bekerja sama dengan kampus-kampus di sini," katanya.

Reporter: David Ilham