Dhilmar Milik Alexander Ramlie Akuisisi Tambang Australia Rp68,6 T

President Director Amman Mineral Alexander Ramlie (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 20 Mei 2026 | 09:56:03 WIB

JAKARTA - Perusahaan tambang Dhilmar yang disokong oleh konglomerat tanah air, Alexander Ramlie, dilaporkan bakal mencaplok tambang batu bara kokas (coking coal) milik Anglo American di Australia dengan nilai transaksi mencapai US$3,9 miliar atau setara Rp68,64 triliun (berdasarkan asumsi kurs Rp17.600/US$).

Berdasarkan laporan Forbes, korporasi asal Inggris tersebut dijadwalkan menerima pembayaran sebesar US$2,3 miliar pasca-rampungnya transaksi pada kuartal pertama tahun 2027.

Di samping itu, terdapat pula dana tambahan hingga US$1,6 miliar yang jumlah nominalnya akan menyesuaikan dengan fluktuasi harga batu bara kokas dalam jangka waktu lima tahun setelah kesepakatan resmi ditutup.

Aksi korporasi ini direalisasikan di tengah tren lonjakan permintaan batu bara kokas di pasar global yang bertindak sebagai bahan baku utama bagi industri pembuatan baja.

Sebelumnya, aset tambang tersebut sempat direncanakan untuk dilego kepada emiten tambang asal Amerika Serikat, Peabody Energy, pada November 2024 silam.

Kendati demikian, rencana transaksi tersebut terpaksa kandas akibat insiden kebakaran pada Maret 2025 yang sempat menghentikan aktivitas operasional di Moranbah North Mine, Australia.

Pihak Anglo American menegaskan bahwa mereka akan tetap meneruskan langkah arbitrase bersama Peabody guna menyelesaikan polemik kesepakatan yang batal tersebut.

Perlu diketahui bahwa Anglo American memegang posisi sebagai eksportir batu bara kokas terbesar ketiga di dunia yang menyuplai kebutuhan konsumen di kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika Selatan.

Korporasi ini mengelola lima unit tambang yang berhasil memproduksi total 8,2 juta ton batu bara kokas pada tahun lampau.

Dua unit aset terbesarnya, yakni Tambang Moranbah North serta Tambang Grosvenor, seluruhnya berlokasi di wilayah Queensland, Australia.

Komoditas batu bara kokas yang menjadi bahan baku primer dalam produksi baja diproyeksikan terus mengalami pertumbuhan permintaan seiring meningkatnya konsumsi baja global.

Merujuk pada data Asosiasi Baja Dunia, volume permintaan baja di tingkat global diperkirakan melonjak 0,3% pada tahun 2026 menjadi 1,7 miliar ton, sebelum kembali merangkak naik 2,2% pada tahun 2027 hingga menyentuh angka 1,8 billion ton.

Mengantongi estimasi kekayaan bersih aktual senilai 1,4 miliar dolar AS, Alexander Ramlie mengukuhkan posisinya di jajaran figur terkaya di Indonesia.

Dirinya menjabat selaku CEO Dhilmar, perusahaan yang pada tahun 2025 sukses mengambil alih tambang emas Éléonore di Kanada dari raksasa emas AS, Newmont, lewat transaksi senilai US$795 juta.

Tidak hanya itu, Ramlie juga menduduki posisi penting sebagai komisaris di PT Amman Mineral Internasional yang mengoperasikan salah satu kompleks tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia.

Reporter: David Ilham