BRIN Soroti Lambatnya Transisi Energi Sektor Telekomunikasi

Ilustrasi panel surya terapung (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Kamis, 21 Mei 2026 | 11:38:09 WIB

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan perhatian khusus pada lambatnya implementasi sistem energi terbarukan oleh para operator seluler di tanah air pada Rabu (20/5/2026), meskipun sektor telekomunikasi kini tengah dibayangi risiko kejenuhan pendapatan.

Situasi pasar terkini menunjukkan pertumbuhan usaha yang cenderung jalan di tempat, sehingga upaya penghematan biaya operasional melalui sektor energi menjadi opsi yang sangat krusial.

Mengacu pada data PricewaterhouseCoopers (PwC) yang diambil dari Detik iNET, perkiraan pertumbuhan pendapatan industri seluler untuk rentang tahun 2021 sampai 2032 diprediksi hanya mencapai angka 1,2 persen.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menjelaskan bahwa merosotnya pemakaian layanan konvensional menuntut para pelaku industri untuk mengubah strategi bisnis mereka.

"Jadi saat ini operator harus giat-giatnya untuk menggenjot sales mereka, membuat paket-paket menarik untuk bisa meraih revenue yang lebih karena legacy services sudah sangat sedikit digunakan, telepon dan SMS," ujar Dr Moch Mardi Marta Dinata.

Langkah efisiensi pengeluaran energi dinilai sangat mendesak lantaran sektor ini menyedot porsi yang besar, yaitu hingga 20 persen dari keseluruhan biaya operasional korporasi telekomunikasi.

"90% dari total 20% itu digunakan untuk membeli bahan bakar dan juga listrik," terang Dr Moch Mardi Marta Dinata.

Melihat hasil analisis McKinsey, terdapat empat elemen kunci dalam memangkas ongkos energi, antara lain keterjangkauan, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Penggunaan sumber energi ramah lingkungan dinilai bisa menghasilkan penghematan dana paling optimal bagi jaringan operator.

"Dengan penambahan renewable energy, penggunaannya bisa menggunakan solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, atau lain sebagainya yang sesuai dengan kondisi atau profil dari site tersebut. Tapi di sini tinggal pertanyaan, kenapa sampai sekarang operator telekomunikasi di Indonesia khususnya belum mengimplementasikan renewable energy system ini di jaringan mereka?" tanya Dr Moch Mardi Marta Dinata.

Uji coba penerapan infrastruktur ramah lingkungan pada dasarnya sudah dirintis sejak belasan tahun silam oleh PT Telkom Indonesia di wilayah Kalimantan serta Sumatera.

"Berarti kan ada barrier dari operator, kenapa sampai sekarang sudah hampir 15 tahun, bahkan lebih dari 15 tahun belum juga mengimplementasikan ini secara menyeluruh?" tandas Dr Moch Mardi Marta Dinata.

Reporter: David Ilham