Chiemgauer: Uang Lokal Jerman yang Sukses Kurangi Emisi CO2
JERMAN - Apabila Anda berkunjung ke toko roti atau toko buku di kawasan Chiemgau, Negara Bagian Bayern, Anda akan melihat konsumen yang melakukan pembayaran dengan uang kertas unik bermotif serangga seperti belalang atau kumbang.
"Sekitar 10-15 pelanggan membayar dengan cara ini,” salah seorang penjual buku mengatakan pada DW.
Masyarakat setempat menamainya "Chiemgauer", sebuah mata uang yang mereka buat sendiri.
Walaupun terdengar tidak biasa, mata uang ini menjadi dasar sistem keuangan mikro yang sudah bertahan selama lebih dari dua dekade dan saat ini beralih fungsi menjadi alat pengurangan emisi karbon di daerah tersebut.
Mata uang Chiemgauer ini berawal pada tahun 2003 di sebuah sekolah menengah setempat.
Pada masa itu, seorang guru ekonomi bernama Christian Gelleri bersama sekelompok muridnya mencari cara untuk membantu pelaku usaha lokal yang kehilangan pembeli akibat perluasan pusat perbelanjaan besar.
Jalan keluar mereka yaitu dengan meluncurkan mata uang baru yang dikonsep agar tetap berputar di dalam wilayah tersebut saja.
Mereka mencetak serta mengedarkannya, dan secara perlahan warga serta toko setempat mulai menerimanya sebagai alat bayar.
Seiring berjalannya waktu, gagasan sederhana itu tumbuh menjadi sebuah sistem keuangan yang mapan.
"Saat ini, lima juta Chiemgauer dibelanjakan setiap tahunnya,” kata Gelleri, pemimpin asosiasi Chiemgauer e.V., pengelola mata uang tersebut.
Kini, nilai satu Chiemgauer setara dengan 1 Euro (Rp20.800).
Di ruang kerjanya di Traunstein, Gelleri memperlihatkan lemari besi berisi tumpukan uang kertas kepada DW.
"Jumlahnya lebih dari 200.000 Chiemgauer, dengan nilai yang sama dalam mata uang euro,” ucap Gelleri dengan bangga.
Uang kertas tersebut dicetak secara resmi dengan dilengkapi fitur pengaman anti-pemalsuan.
Berdasarkan hukum di Jerman, memakai mata uang di luar euro dapat dikategorikan sebagai tindakan pidana.
Namun, lantaran jumlah penggunanya terbatas pada kisaran 4.200 orang dan 300 pelaku usaha, bank sentral Jerman (Deutsche Bundesbank) memberikan dispensasi khusus untuk anggota asosiasi yang sudah terdaftar.
Sistem keuangan ini beroperasi melalui perputaran roda ekonomi lokal.
Seorang pemilik toko organik menceritakan bahwa ia memanfaatkan pendapatan Chiemgauer miliknya untuk keperluan belanja pribadi.
Hal yang sama dilakukan oleh pedagang makanan Mediterania yang menggunakan uang itu untuk membayar para pemasok lokal.
Uang ini bersirkulasi dengan baik dalam bentuk fisik maupun secara elektronik lewat kartu khusus.
Supaya tetap bisa digunakan, para pemilik uang wajib membeli prangko kecil setiap enam bulan sekali, dan masa berlaku uang akan habis setelah tiga tahun.
Pengguna individu tidak dapat menukarkannya kembali ke mata uang euro, tetapi pelaku usaha diperbolehkan menukarnya dengan dikenakan biaya transaksi sebesar 5% guna mendanai operasional serta organisasi nirlaba.
Sekarang, Gelleri memadukan aspek kelestarian lingkungan ke dalamnya.
Masyarakat bisa memperoleh bonus Chiemgauer apabila menerapkan tindakan yang ramah iklim, seperti membetulkan pakaian yang rusak, berbagi kendaraan (car-sharing), atau memakai bahan baku yang ramah lingkungan.
"Pemilik panel surya ini mendapat 100 Chiemgauer,” kata Gelleri, sambil menunjukkan instalasi panel surya di halaman sebuah rumah.
"Dalam 20 tahun, instalasi listrik balkon dengan panel surya turut menghemat 11 ton karbon dioksida.”
Tiap ton karbon yang berhasil diimbangi lewat dana ini mampu menghemat 9 ton karbon berkat adanya perubahan perilaku dari warga.
Berdasarkan data auditor TÜV Nord, program ini telah berhasil menekan total 12.800 ton CO2 sepanjang empat tahun belakangan.
Chiemgauer merupakan satu dari sekitar 300 "mata uang pelengkap" yang ada di dunia.
Seorang peneliti dari Universitas Lund, Ester Barinaga, memaparkan bahwa mata uang seperti ini memicu aktivitas belanja lokal sehingga mampu memperpendek rantai pasok barang.
Meski tingkat partisipasinya masih berada di bawah angka 1% dari total penduduk dan terhambat oleh produk manufaktur yang didatangkan dari luar, mata uang ini memberikan sebuah pelajaran yang berharga.
"Uang bisa dirancang,” ujar Barinaga.
"Jika uang diciptakan untuk menghargai perilaku pro-lingkungan, maka akan ada lebih banyak orang yang berperilaku pro-lingkungan.”