PGN Garap Potensi Gas Metana Batu Bara 9,7 TCF di Tanjung Enim

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 06 Juli 2026
PGN Garap Potensi Gas Metana Batu Bara 9,7 TCF di Tanjung Enim
Pekerja sedang beraktivitas di fasilitas pipa gas milik PT PGN Tbk. (FOTO: NET)

PALEMBANG — PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGN) mengawali pengerjaan potensi gas metana batu bara (coalbed methane/CBM) di Tanjung Enim Sumatra Selatan yang diprediksi menyentuh 9,7 triliun kaki kubik (TCF).

Rencana ini menjadi salah satu taktik badan usaha tersebut demi memperkokoh pasokan gas dalam negeri sekaligus menekan ketergantungan pada impor energi.

Direktur Utama PGN Arief K Risdianto menyatakan pengerjaan CBM membuka jalan komersialisasi sumber daya gas nonkonvensional yang sepanjang ini belum dipakai secara maksimal.

Merujuk pada data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, potensi CBM di Tanjung Enim menyentuh kisaran 9,7 TCF original gas in place (OGIP) dengan perkiraan nilai ekonomi berkisar US$15,4 miliar.

Ketersediaan tersebut dinantikan menjadi hulu gas baru demi mencukupi keperluan bidang industri maupun pembangkit listrik.

PGN menyatakan telah mengatur metode pemanfaatan gas dengan prediksi distribusi yang merangkak naik secara berkala, berawal dari 1 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) hingga menyentuh 25 MMSCFD.

"Dalam upaya menjaga kestabilan pasokan sekaligus memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di Sumsel, PGN mengembangkan infrastruktur injection point sebagai titik pengumpul gas dari berbagai sumber sebelum disalurkan ke jaringan pipa transmisi," jelas Arief dalam keterangan resmi dari Sumbernya, Senin (6/7/2026).

Di samping CBM, PGN turut menggarap potensi biomethane yang bersumber dari limbah kelapa sawit serta synthetic natural gas (SNG).

Ketiga hulu tersebut dianggap mempunyai potensi masif demi menambah ketersediaan gas di Sumsel.

Menurut Arief, infrastruktur injection point bakal menyatukan ketersediaan dari CBM, biomethane maupun hulu gas lainnya ke jaringan transmisi yang telah dipunyai PGN sehingga pemanfaatannya menjadi makin hemat.

“Integrasi infrastruktur berbasis pipa maupun nonpipa menjadi kunci dalam mempercepat penyerapan pasokan energi domestik. Dengan jaringan infrastruktur gas yang dimiliki saat ini, PGN siap menjadi penghubung antara sumber pasokan baru dengan pelanggan di berbagai sektor,” ujarnya.

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman memastikan, pengerjaan CBM di Muara Enim ialah salah satu proyek strategis yang menopang ketahanan energi nasional dan kenaikan hasil gas dalam negeri.

Akan tetapi, menurut dia, masih ada beberapa faktor administratif yang wajib dituntaskan, termasuk penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

“Meski begitu seluruh pemangku kepentingan telah sepakat untuk mempercepat penyelesaiannya sesuai ketentuan agar proyek dapat segera memasuki tahap komersialisasi,” tuturnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua