Lewat Proyek Biogas, PalmCo Lepas 5.202 Ton Emisi Karbon

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 20 Mei 2026
Lewat Proyek Biogas, PalmCo Lepas 5.202 Ton Emisi Karbon
PalmCo Lepas 5.202 Ton Emisi Karbon (FOTO: NET)

JAKARTA – Keterlibatan masyarakat dalam bursa karbon memperlihatkan tren yang terus meningkat sepanjang tahun 2025.

Melalui platform IDX Carbon serta PTPN Carbon Hub, publik tercatat telah menyerap sebesar 5.202 ton setara karbon dioksida (tonCO2e) dari proyek energi baru terbarukan milik PTPN IV PalmCo.

Data internal korporasi menunjukkan bahwa volume serapan tersebut berasal dari 335 transaksi yang dilakukan oleh perorangan maupun badan usaha sejak pencatatan perdana di Bursa Karbon Indonesia pada 20 Mei 2025.

Sementara itu, transaksi pembelian riil yang pertama berlangsung pada 29 Juli 2025 dan pencatatan akumulatifnya dirampungkan pada 31 Desember 2025.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengungkapkan, kecenderungan ini mencerminkan meningkatnya kepedulian masyarakat untuk ikut andil secara langsung dalam aktivitas reduksi emisi.

“Dulu isu perdagangan karbon identik dengan korporasi besar. Sekarang masyarakat juga mulai mengambil peran dalam menyeimbangkan jejak karbon dari aktivitas sehari-hari,” ungkap Jatmiko dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Menurut Jatmiko, semua unit karbon yang dilepas melalui platform tersebut bersumber dari proyek yang telah terverifikasi serta mempunyai basis operasional yang konkret di lapangan.

Dua proyek utama yang menjadi basis kredit karbon itu adalah pengolahan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) pada fasilitas Biogas Co-Firing di Pabrik Kelapa Sawit Lubuk Dalam, Riau, serta Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei, Sumatera Utara.

Proyek ini memanfaatkan gas metana dari limbah cair sawit untuk diproses menjadi energi baru terbarukan.

Selain mengurangi emisi gas rumah kaca, pola ini juga dinilai memperkuat implementasi ekonomi sirkular pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Berdasarkan data perusahaan, dari total 5.202 tonCO2e yang sudah diserap publik, sebanyak 2.111 tonCO2e telah resmi di-offset lewat Sistem Registri Nasional (SRN).

Proses offset tersebut dijalankan secara berkala dengan fasilitasi PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) selaku pengelola platform serta dukungan Pertamina New & Renewable Energy.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya juga telah memasukkan proyek biogas milik PTPN IV PalmCo sebagai salah satu langkah mitigasi yang mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dan diperjualbelikan melalui Bursa Karbon.

Jatmiko menilai capaian ini menjadi penanda bahwa skema perdagangan karbon mulai diterima oleh publik karena dinilai lebih terbuka serta mudah diakses.

“Setiap unit karbon yang dibeli memiliki underlying project yang jelas. Masyarakat bisa mengetahui langsung sumber pengurangan emisinya sehingga kepercayaan terhadap mekanisme ini ikut tumbuh,” katanya.

Secara teknis, volume serapan emisi sebesar 5.202 tonCO2e tersebut setara dengan penanaman dan perawatan sekitar 86.000 bibit pohon selama 10 tahun.

Nilai itu juga sebanding dengan pemangkasan emisi dari sekitar 1.130 mobil penumpang dalam waktu setahun.

Sejumlah peserta menyatakan mulai melihat offset karbon sebagai bagian dari tanggung jawab personal terhadap kelestarian lingkungan hidup.

M Ansori Nasution, salah seorang pembeli kredit karbon eceran, menyebutkan bahwa akses pembelian yang terhubung secara instan dengan proyek energi terbarukan membuat masyarakat lebih percaya akan dampak riil yang didapatkan.

“Sebagai individu, ada kesadaran untuk ikut menyeimbangkan jejak karbon. Yang penting, proyeknya jelas dan memang menghasilkan pengurangan emisi,” sebut Ansori.

Tanggapan serupa juga disampaikan oleh Devanda Faiqh Albyn.

Menurut Devanda, kaum muda mulai memandang keterlibatan pada perdagangan karbon sebagai bentuk investasi lingkungan jangka panjang.

“Isu perubahan iklim sekarang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika ada instrumen yang memungkinkan publik ikut mendukung proyek energi bersih secara langsung, tentu itu menjadi hal positif,” katanya.

Pemerintah menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2050.

Dalam hal ini, kontribusi dari sektor perkebunan serta energi baru terbarukan diproyeksikan menjadi salah satu pilar krusial dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua