Laba Kuartal I Saudi Aramco Tembus Rp 581 T, Lampaui Ekspektasi Analis
- Selasa, 12 Mei 2026
JAKARTA - Saudi Aramco mencatatkan pertumbuhan laba pada kuartal pertama tahun 2026 sebesar 26% dibanding periode yang sama tahun lalu, sebuah angka yang melewati prediksi para ahli.
Pencapaian ini dipicu oleh optimalisasi penggunaan pipa utama yang mendukung aktivitas ekspor minyak tanpa harus melewati jalur Selat Hormuz.
Keuntungan bersih Aramco yang sudah disesuaikan pada kuartal pertama 2026 menyentuh US$ 33,6 miliar atau setara Rp 581,28 triliun (kurs Rp 17.300).
Baca JugaPLN IP Perkuat Bisnis Beyond kWh Lewat Perdagangan Karbon Global
Jumlah ini mengalami kenaikan jika dikomparasikan dengan periode tahun sebelumnya yang berada di angka US$ 26,6 miliar atau setara Rp 460,18 triliun.
Hasil ini juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 34% jika dibandingkan dengan keuntungan kuartal sebelumnya yang hanya sebesar US$ 25,1 miliar atau kisaran Rp 434,23 triliun.
Sebelumnya, pengamat pasar memproyeksikan laba kuartal pertama Aramco hanya akan berada di level US$ 31,2 miliar.
CEO Aramco Amin Nasser menerangkan bahwa East-West Pipeline yang sekarang beroperasi dengan volume penuh 7 juta barel per hari telah menjadi rute yang sangat vital di tengah kendala yang terjadi di Selat Hormuz.
"East-West Pipeline telah membuktikan diri sebagai jalur pasokan yang sangat penting, membantu meredam dampak guncangan energi global dan memberikan bantuan bagi pelanggan yang terdampak hambatan pengiriman di Selat Hormuz," ujarnya.
Langkah Iran menutup Selat Hormuz dikabarkan telah menyebabkan hilangnya stok hampir 1 miliar barel minyak, dengan situasi kekurangan pasokan yang terus memburuk selama jalur tersebut tetap tertutup.
Nilai jual minyak kembali meningkat pada hari Jumat pasca peluncuran rudal oleh Iran ke Uni Emirat Arab serta serangan Amerika Serikat terhadap dua kapal tanker Iran yang mencoba menerobos blokade Washington.
Minyak Brent mengakhiri perdagangan dengan kenaikan sekitar 1% pada harga US$ 101,29 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat ditutup sedikit menguat pada angka US$ 95,42 per barel.
Pada periode kuartal pertama, harga Brent sudah melonjak hingga 95% dan mencatatkan kenaikan 67% terhitung sejak awal tahun ini.
David Ilham
variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Manchester United Incar Shea Charles Murah Untuk Gantikan Casemiro Musim Panas
- Jumat, 10 April 2026
Chelsea Tolak Real Madrid Demi Pertahankan Bek Muda Josh Acheampong Masa Depan
- Jumat, 10 April 2026
Liverpool Semakin Dekat Amankan Kontrak Baru Ibrahima Konate Di Anfield Musim Ini
- Jumat, 10 April 2026












